Ekonomi Feature

Kamis, 5 November 2020 - 13:30 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Brand Warkop Edelweiss. (Foto: FEC Media)

Brand Warkop Edelweiss. (Foto: FEC Media)

Seruput Kopi Abadi Edelweiss

Terang lampu temaram menyambut kedatangan Floreseditorial.com di warung kopi (warkop) yang berlokasi di Jalan Trans Flores Ruteng – Borong, Pesi-Sita, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Suasana klasik dengan banyak hiasan dinding serta pajangan dari berbagai negara, menambah keindahan warkop bernuansa semi Eropa itu.

Tampak dari luar bangunan warkop, umbul-umbul bendera dari berbagai negara, yang tentunya menandakan warkop ini juga melayani pelanggan internasional.

Warkop Edelweiss. Sesuai namanya, Edelweiss yang adalah bunga abadi, warkop ini diharapkan dapat terus tumbuh dan semakin berkembang menemani seruput kopi para penikmatnya.

Andriy Tulle, Putra asli Manggarai Timur yang lahir 35 tahun lalu di Wae Reca, Borong, merintis usaha Warkop Edelweiss miliknya di tengah wabah pandemi covid-19. Sembari mengamati pasar hingga moment launching yang akan datang, warkop ini sudah melakukan soft opening-nya pada 31 Juli 2020 lalu.

Meski usaha ini baru dirintis beberapa bulan, Andriy, mengaku telah menggeluti dunia kopi sebagai passion-nya itu sejak lama. Keahlian meracik kopi, Ia dapat dari belajar otodidak dan sharing pengalaman bersama kerabat dari berbagai kalangan.

Warkop Edelweiss, tidak hanya menyajikan kopi, tapi juga beberapa pangan lokal seperti pisang goreng, roti bakar, kentang goreng, tortilla dan yang paling khas adalah stik pisang Warkop Edelweiss.

Sementara untuk menu kopinya, Warkop Edelweiss yang konsisten ingin memperkenalkan kopi asli Manggarai Timur ini, menyajikan Kopi Juriah Colol Premium dan Kopi Turki Kapulaga sebagai menu kopi andalannya.

Andriy Tulle, saat menyiapkan kopi racikannya. (Foto: FEC Media)

Dengan berbagai pengalaman menyambangi beberapa kota hingga luar negeri, Andriy, ingin menghadirkan cita rasa seruput kopi khas daerah asalanya Manggarai Timur, dengan cara yang mewan namun ekonomis.

Dengan hanya Rp 5.000 – Rp 15.000 saja, Anda sudah dapat menikmati cita rasa kopi dan pangan lokal dengan rasa dan kualitas yang dijamin akan membuat Anda bertandang lagi.

“Saya tidak utamakan profit, yang terpenting adalah dapat diterima pasar dulu,” kata Andriy.

Sebagai Putra asli Manggarai Timur, melalui usahanya ini, Andriy, ingin mengajak anak muda lainnya agar pandai melihat peluang dan mulai berpikir menjadi wirausaha.

“Saya mau, anak-anak muda daerah kita ini keluar dari zona nyaman. Mampu menciptakan inovasi dan perubahan-perubahan yang membangun daerah kita sendiri. Jangan lagi menjadi anak-anak muda konsumtif yang nyaman dengan produk dari luar daerah kita, yang bukan dibuat dan dikembangkan oleh orang kita. Mari kita sama-sama buat perubahan, kembangkan kemampuan kita untuk bangun daerah kita sendiri dengan produk-produk yang kita hasilkan. Jangan takut memulai,” ungkap Andriy.

Andriy menceritakan, meski Ia baru merintis usahanya, namun semua peralatan kopi yang Ia miliki sudah dibeli sejak tiga tahun lalu. Sembari terus berlatih dan belajar, peralatan kopi yang Ia kumpulkan perlahan itupun mulai mampu membawanya hingga membuka Warkop Edelweiss miliknya itu.

“Tidak ada yang instan. Apa yang saya rintis sekarang adalah cerminan proses saya belajar dan berlatih sekian tahun. Semuanya otodidak. Bahkan sampai sekarang pun saya masih terus belajar,” terang Andriy.

Andriy Tulle, memilih kopi sebagai ladang usahanya, karena menurutnya kopi adalah sesuatu yang tidak akan lepas dari kehidupan manusia, khususnya bagi orang Manggarai Timur.

“Sederhananya, kopi tidak akan basi. Bisa rusak hanya jika salah cara penyimpanannya,” ungkapnya.

Melalui usahanya itu, Ia juga ingin memberdayakan para petani kopi di daerahnya. Ia mengaku, pihaknya telah melakukan beberapa kerja sama dengan para petani kopi, untuk menyuplai kopi di warkop miliknya. Tidak hanya itu, Andriy, bahkan telah mengirim kopi khas daerahnya itu kepada kerabatnya di luar kota, seperti Jawa dan Kalimantan.

Meski menurutnya warkop yang Ia miliki hanya warung sederhana, tapi teknik penyajian kopi di Warkop Edelweiss bukanlah teknik ‘yang penting ngopi’. Melalui usahanya ini, Andriy, ingin merangkul anak-anak muda daerahnya dan menjadikan Warkop Edelweiss sebagai wadah edukasi.

“Ayo, datang kemari. Kita sama-sama belajar, bertukar gagasan dan menciptakan hal-hal baru untuk membangun Manggarai Timur ini,” ajak Andriy.

Berkunjung ke Warkop Edelweiss, Anda tidak akan sekadar menyesap rasa dan aroma kopi. Lebih dari itu, obrolan hangat saling bertukar pikir bersama Sang pemilik warkop, dapat melesatkan imaji untuk tidak terus berlindung pada cangkang ‘zona nyaman’. (iki)

Artikel ini telah dibaca 347 kali

Baca Lainnya
x