Ekonomi Feature

Sabtu, 8 Agustus 2020 - 03:28 WIB

8 bulan yang lalu

logo

Pisang dari Bari, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat jual ke Bali. (Foto: Robert Perkasa)

Pisang dari Bari, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat jual ke Bali. (Foto: Robert Perkasa)

Beli Pisang di Bari Jual ke Bali Omzet 10 Juta/Minggu

Labuan Bajo, floreseditorial.com – Arifudin (40). Nelayan dari Desa Bari, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat. Enam tahun terakhir, Ia menjajal bisnis pisang (muku dima). Beli pisang di Bari. Jual ke Bali, Sape, Bima, Sumbawa. Bisnis pisang lintas provinsi. Omzet bisnisnya menggairahkan hingga Rp 10.000.000 seminggu atau Rp 40.000.000 sebulan.

Jumat senja (7/8/2020), sunset merona jingga di bibir pantai Labuan Bajo. Ratusan tandan pisang mentah menumpuk di tepi pantai. Tepatnya di samping TPI Kampung Ujung Labuan Bajo. Tidak jauh dari tumpukan pisang, sebuah dump truck ekspedisi sedang parkir. Bak mobil ekspedisi itu persis menyentuh tumpukan tandan pisang.

Sementara itu, tiga orang ABK KM. Anugrah sibuk bongkar muatan (pisang) dari dalam dek kapal itu. Seorang ABK lainnya bolak-balik membawa dua tandan pisang dari palka kapal menuju tumpukan tandan pisang.

Aktivitas ABK di atas Kapal itu memantik tanya. Penasaran. Siapa pemilik pisang sebanyak itu? Pisang dari mana? Hendak dibawa ke mana?

Saya dan dua teman wartawan, Sandro dan Rikard, tak kuasa menahan rasa ingin tahu. Kami merapat ke buritan kapal. Tanpa diundang, kami naik ke dek kapal yang sedang berlabuh di tepi pantai. Bertemu dengan para ABK. Mereka sedang bongkar muatan.

Beruntung, seorang ABK bersedia diajak diskusi. Namanya, Abdulah (52). ABK Anugrah ada empat orang beserta seorang juragan bernama, Jufri. Dia menjelaskan, pisang yang sedang dibongkar itu milik, Arifudin. KM. Anugrah juga milik, Arifudin.

“Pisang ini dari Bari. Kami baru tiba. Itu pemiliknya,” kata Abdullah sembari menunjuk ke arah, Arifudin, yang saat itu ada di atas mobil ekspedisi.

Abdulah, menambahkan, perjalanan dari Bari ke Labuan Bajo sekira empat jam.

“Tergantung arus dan angin. Kalau arus baik dan angin bagus bisa tiga jam pelayaran Bari-Labuan Bajo,” imbuhnya.

Muatan kapal itu, kata Abdullah, diisi dengan kelapa dan pisang.

“Total 400 tandan pisang dibawa ke Sape-Bima Lombok, Sumbawa dan Bali sesuai pesanan. Tiap minggu kami muat pisang,” kata Abdulah.

Mendapat informasi awal itu, rasa ingin tahu tentang tumpukan pisang dari Bari makin meruncing. Kami lalu pamit turun dari dek kapal. Segera menemui, Arifudin, pemilik pisang. Dia sedang sibuk di atas mobil ekspedisi.

Hari mulai gelap. Sunset khas Labuan Bajo telah kembali ke peraduannya. Dalam suasana keremangan, kami akhirnya bertemu, Arifudin. Dia bersedia diajak ngobrol kendati sedang sibuk.

Arifudin, pebisnis jual-beli pisang dengan omzet puluhan juta rupiah. (Foto: Robert Perkasa)

Arifudin, mulai bentang riwayat perjalanan bisnisnya. Dia mengaku, hanya tamat SD. Kerja sehari-harinya, melaut dan bertani. Dia punya toko di Bari. Punya kapal motor sendiri. Kini, Arifudin, sedang menggeluti bisnis pisang.
Dia membeli pisang di kebun petani seharga Rp 45.000 – Rp 50.000.

“Yang dapat saya handle sekitar 70% dari seluruh lahan pisang yang ada di sejumlah desa di Bari. Desa Bari, Desa Nangka/Bari, Desa Genang. Harga bervariasi. Tergantung pilihan petani. Kalau pisang diterima di jalan atau di pelabuhan Rp 45.000 – Rp 50.000 per tandan,” katanya.

Awal bisnisnya, Arifudin, telah bangun jaringan kerja sama dengan pengusaha di NTB dan Bali. Dia lego pisang dari Bari ke Bali Rp 60.000 – Rp 70.000 per tandan.

Arifudin, menambahkan, pisang yang sudah dibeli dimuat ke Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo dimuat dengan mobil ekpedisi fuso lalu dibawa ke Bali, Sumbawa, Sape, Bima tergantung pesanan.

“Sekali muat 400-500 tandan dalam satu minggu. Kadang kala sekali dalam dua minggu,” ungkapnya.

Ongkos mobil ekspedisi Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per tandan.

Permintaan tinggi, stok terbatas

Ayah tiga anak ini mengatakan, permintaan pisang di NTB dan Bali sangat tinggi. Dia sering kewalahan memenuhi pesanan pelanggan-pelanggannya di NTB dan Bali.

“Di beberapa kota itu, saya sudah ada channel. Bangun kerja sama. Permintaan mereka besar. Saya malah kewalahan. Kalau kurang stok di Bari, saya ambil pisang di desa sekitar Bari, Desa Romang, Nggilat dan Desa Hita,” ungkapnya.

Menyusul permintaan para pelanggan di NTB dan Bali, pria yang hanya berijazah SD itu, kini membangun kerja sama kolaborasi dengan para petani di Bari. Dia mendorong petani setempat untuk giat menanam pisang memanfaatkan lahan yang ada.

“Supaya mereka cepat paham, saya sendiri tanam pisang. Bahkan saya membeli tanah kosong seluas tiga hektar. Dan satu bidang tanah lainnya seluas dua hektar. Total lahan saya lima hektar ditanami 1.000 pohon pisang. Saya menekuni bisnis pisang ini selama enam tahun terakhir,” tutur Arifudin.

Harapan

Arifudin, mengaku para petani di Bari memiiki lahan tapi modal usaha mereka terbatas. Selama ini, kata Dia, hanya petani sawah saja yang mendapat bantuan pemerintah. Karena itu, Dia berharap pemerintah membantu para petani pisang di Bari.

“Kalau bisa pemerintah bisa bantu petani pisang. Kebanyakan petani punya lahan tapi tak punya modal. Selama ini belum ada sama sekali bantuan pemerintah. Hanya bantu petani sawah saja. Tujuan saya mau bangun ekonomi para petani pisang di Bari,” tandas Arifudin. *(Robert Perkasa)

Artikel ini telah dibaca 465 kali

Baca Lainnya
x