Ekonomi Feature Sosial

Rabu, 5 Agustus 2020 - 09:38 WIB

8 bulan yang lalu

logo

Ibu Nurbia (39) dan kelima anaknya, warga Kampung Kenari, Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. (Foto: Robert Perkasa)

Ibu Nurbia (39) dan kelima anaknya, warga Kampung Kenari, Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. (Foto: Robert Perkasa)

Kisah Tentang Dua Janda Terbalut Derita

Labuan Bajo, floreseditorial.com – Satu rumah, dua keluarga. Nurbia (39) dan Nurgaya (36). Dua Ibu janda beradik-kakak kandung. Suami masing-masing Ibu janda itu telah meninggal dunia. Total 11 jiwa menghuni rumah panggung yang beratap seng. Tujuh orang penghuni rumah itu, penyandang disabilitas (tuna netra) yakni, Ibu Nurbia dan ketiga anaknya serta Ibu Nurgaya dan kedua anaknya.

Pemulung sampah

Adalah, Dirwan (14) dan Wildan (11), dua putra Ibu Nurbia serta Hadirat (15), putra Ibu Nurgaya, menjadi tulang punggung keluarga menggantikan peran Ayah mereka yang telah pergi selamanya. Ketiga bocah laki-laki itu masih duduk di bangku sekolah. Namun, demi keluarga dan masa depannya, Diwan dan Wildan, terpaksa jadi pemulung sampah dan penjual kayu bakar. Sementara, Hadirat, jadi buruh harian di berbagai proyek.

Minggu (2/8/2020), saya dan beberapa teman wartawan, menyusuri kawasan selatan Kecamatan Komodo. Agenda terakhir dalam jejak petualang akhir pekan itu, melacak jejak sampah Kota Labuan Bajo yang di-droping ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang terletak di Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Sekira 17 Km jauhnya dari Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat.

Kami tiba di pintu gerbang TPA sekitar pukul 15.30 Wita. Dari pintu gerbang itu, kami terus meluncur hingga TPA sampah. Tak terkira jumlahnya, lalat menyambut kedatangan kami di lokasi tersebut. Bau amis menusuk hidung kami yang terbungkus masker. Tidak kuasa menahan aroma busuk dan kerumunan lalat, kami memilih menghindari lautan sampah Kota Labuan Bajo. Kami naik kembali ke bukit dekat pintu gerbang TPA. Dari atas bukit, kami melihat dua sosok pria di lokasi TPA itu.

Saking ingin tahu informasi tentang TPA, kami turun dari bukit menemui kedua pria berbaju hitam sedang menggaruk sampah. Dari atas bukit, kami menduga kedua pria itu adalah petugas TPA. Dugaan kami ternyata meleset. Kedua pria itu bukan petugas TPA, melainkan pemulung sampah.

Pakaian kedua bocah itu tampak kusam dan lusuh. Untungnya, saat mendapati kedua bocah pemulung itu, ada di antara kami yang cepat menjepret gambar dua bocah tersebut. Sebab, tak lama berselang, kedua bocah itu langsung kabur entah ke mana. Tidak satu pun informasi tentang TPA dan kedua bocah yang kami peroleh.

Penasaran dengan kedua bocah tadi, kami memutuskan untuk jangan kembali ke Labuan Bajo sebelum menemukan kedua bocah tadi. Sekitar pukul 16.00 Wita, kami meninggalkan TPA menuju Kampung Kenari, sekira 5 Km jauhnya dari TPA. Tiba di ujung simpang Kenari, kami mampir di sebuah kios. Beli bensin, rokok dan jajan di situ.

Seorang teman kami memperlihatkan gambar wajah bocah yang kami incar kepada teman sebayanya yang ada di kios tersebut. Kami merasa legah karena narasumber yang kami buru, ternyata rumahnya dekat dengan kios tersebut.

Mendapat petunjuk, tanpa tedeng aling-aling, kami segera menyambangi rumah panggung sesuai petunjuk. Bak gayung bersambut, ketika tiba di anak tangga pertama, sang tuan rumah menyambut kedatangan kami di pintu rumah.

Ibu Nurgaya (36), bersama anak bungsunya. (Foto: Robert Perkasa)

Rumah diterangi lampu pelita

Rumah itu dalam kondisi gelap. Cahaya lampu hanya tampak di dapurnya. Kami terpaksa menggunakan lampu senter HP.

Tak lama berselang, dua Ibu berkerudung dan anak-anaknya datang menyalami kami di ruangan depan yang gelap. Ibu berkerudung itu kemudian menyalakan lampu pelita (lampu minyak tanah) sambil menyapa kami. Percakapan dengan dua Ibu itu berlangsung cair di tengah temaram cahaya lampu tempel minyak tanah.

Satu rumah dua keluarga

Nurbia (39). Ibu janda lima anak. Ibu rumah tangga tuna netra. Dua perempuan, tiga laki-laki. Anak sulungnya, Sumiati (22), tuna netra. Anak kedua, Maulana Saputra (17), juga penyandang disabilitas komplit sejak lahir. Demikian pula putri bungsunya, Ati Arisma (7), seorang tuna netra.

Pada 2010 silam, Muhamad Saidi, suaminya, telah pergi selamanya meninggalkan mereka. Satu-satunya tulang punggung keluarga malang ini bersandar pada pundak kedua anak laki-laki, Rusdiawan Saputra (14) dan Wildan Saputra (12). Rusdiawan (anak ketiga), siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Komodo. Wildan (anak keempat), siswa Kelas IV SDI Lengkong Bot.

Adalah, Nurgaya (36), tinggal serumah dengan kakak kandungnya, Ibu Nurbia. Ibu Nurgaya, juga mengalami penderitaan yang sama. Dua anaknya, Muhamad Hidayat (10) dan putri bungsunya, Citra Yuliana Wati (5), juga penyandang disabilitas.

Suaminya, Muhamad Saleh, telah meninggal dunia pada 2016 silam, karena sakit stroke. Harapan tunggal Ibu janda tiga anak ini hanya pada putra sulungnya, Muhamad Hadirat (15), siswa kelas I SMA Negeri 4 Komodo.

Singkat kisah, dua Ibu janda kaka-beradik, tinggal serumah di Kampung Kenari, Desa Warloka. Rumah kedua janda malang ini terletak persis di simpang tiga Kenari. Ruas jalan menuju Desa Golo Mori dan menuju Warloka/TPA sampah Kota Labuan Bajo.

Rumah panggung milik, Ibu janda Nurbia dan adik kandungnya, Ibu Nurgaya, di Kampung Kenari, Desa Warloka, Kecamatan Komodo. (Foto: Robert Perkasa)

Rumah dekat Kantor Desa

Rumah panggung itu diapit Kantor Kepala Desa Warloka, rumah milik seorang anggota DPRD Kabupaten Manggarai Barat dan rumah Kepala Desa Warloka.

Hasil penelusuran wartawan media ini, menyebutkan, kedua Ibu janda itu ada di Kampung Kenari berkat kemurahan hati seorang Anggota DPRD Mabar, dari PKB, Sewar Gading Putra.

Dulunya, kedua Ibu janda dan keluarga tinggal terisolasi di kebun dekat TPA sampah. Kebun mereka tidak jauh dari Kampung Kenari. Rumah panggung itu berdiri di atas tanah milik anggota DPRD tadi.

Mengincar mobil sampah

Demi membalut tubuhnya, Diwan dan Wildan, menghabiskan waktunya di pusaran sampah. Kedua bocah itu memulung sampah yang berserakan di TPA Labuan Bajo. Dump truck pengangkut sampah milik Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Mabar adalah rezeki bagi, Dirwan dan Wildan.

Setiap kali mobil pengangkut sampah ke lokasi TPA, Wildan dan Dirwan, mengintip dari semak belukar di tengah hutan dekat TPA. Saat mobil pulang dari lokasi itu, kedua bocah itu langsung sergap memburu pakaian bekas di tengah pusaran sampah yang bersumber dari Labuan Bajo, kota super premium. Bila ditemukan, dibawa ke rumah. Dicuci lalu dipakai.

Besi tua yang mereka temukan di TPA, dijual kepada penada yang datang di Kampung Kenari. Besi tua dijual dengan harga Rp 1.000 per Kg.

“Setiap ada oto datang di TPA, mereka pergi ke sana. Mencari baju, celana bekas, potongan besi tua, kabel, jerigen, tas, sepatu boots, sandal jepit, topi. Mereka cuci lalu pakai. Kalau tidak ada oto datang di TPA, mereka ke hutan. Cari kayu api lalu jual di pinggir jalan. Uangnya untuk beli beras, buku tulis, beli jajan dan uang sekolah,” ujar Nurbia, janda lima anak itu saat diwawancara para wartawan di rumahnya, Minggu (2/8/2020).

Tidak memiliki sawah

Almarhum suami kedua Ibu janda itu tak meninggalkan satu petak pun lahan sawah. Dalam serba keterbatasan kondisi fisiknya, Ibu Nurbia dan Ibu Nurgaya, harus bekerja keras demi anak-anaknya. Menjual kayu bakar yang dicari kedua putranya, Dirwan dan Wildan. Dia menjual kayu bakar di pinggir jalan Rp 20.000 per ikat. Pada musim panen asam, Ibu Nurbia, tertatih-tatih dipapah kedua anak laki-lakinya mencari asam di hutan.

“Kalau musim panen asam, saya dan anak-anak ke hutan cari buah asam. Satu gumpal asam dijual Rp 10.000. Ini saya lakukan untuk beli beras dan kebutuhan keluarga saya,” kisah Nurbia berlinang air mata di tengah remang-remang cahaya lampu pelita di rumahnya.

Sedikit berbeda dengan, Ibu Nurgaya, adik kandungnya. Hari-hari, Ibu janda tiga anak ini terlarut bersama lumpur sawah tetangga sekampungnya. Ibu Nurgaya, menjadi tenaga harian bagi para pemilik sawah di Kampung Kenari. Bahkan, tenaganya dibutuhkan juga pemilik sawah di Kampung Cumbi dan Mbuhung serta kampung sekitarnya.

Upah yang didapatnya dari kerja harian itu berupa padi. Untuk mendapatkan padi, Ibu Nurgaya, harus ikut menanam padi terlebih dahulu. Pada saat mengetam, pemilik sawah memanggilnya ikut mengetam. Upahnya sehari, setengah karung padi. Kalau dikonversi ke beras, sekitar 25 Kg hingga 30 Kg sehari.

“Saya ini, Pak, jadi tenaga harian lepas di berbagai lahan sawah di desa ini dan kampung sekitar sini. Tapi saya harus ikut tanam padi. Saya tidak dipanggil ikut mengetam kalau tidak ikut tanam padi. Upahnya bisa dapat 25 Kg sampai 30 Kg beras sehari. Begitu terus setiap hari. Saya lakukan itu semua untuk kebutuhan keluarga,” tutur Nurgaya sambil menunjuk karung padi yang disimpan di ruang depan rumah panggung itu.

Buruh proyek

Sedangkan, Muhamad Hadirat (15), putra sulungnya, ikut harian kerja proyek dengan upah Rp 100.000 per hari. Kalau musim panen padi, Hadirat, ikut bersama Ibunya di lahan sawan milik tetangga mereka.

“Anak saya bantu angkut padi pada saat mengetam. Upahnya Rp 35.000 hingga Rp 40.000 per hari. Dipakai untuk bayar uang sekolahnya. Sebelum musim panen, Dia juga kerja harian bersih pematamg sawah tetangga di sini. Dia jadi tulang punggung keluarga,” ujar Nurgaya.

Dua bocah beradik-kakak, Dirwan (14) dan Wildan (11), pemulung sampah di TPA Labuan Bajo, Desa Warloka, Kecamatan Komodo. (Foto: Robert Perkasa)

Cuma dapat sembako

Ketika ditanya perihal bantuan pemerintah terkait pandemi corona, kedua Ibu janda itu mengaku gamblang hanya pernah terima bantuan paket sembako berupa tiga kilogram beras, lima butir telur ayam, dua mie goreng dan satu kilogram gula pasir.

“Bantuan sembako itu hari diantar langsung Camat Komodo,” ujar Nurbia diamini Ibu Nurgaya.

Selain itu, Ibu Nurbia, juga mengaku menerima bantuan PKH sebesar Rp 300.000 per tiga bulan. Sedangkan, Ibu Nurgaya, tak pernah menerima satu pun jenis bantuan. Baru-baru ini, nama Ibu Nurgaya didaftar sebagai calon peserta penerima program PKH.

“BLT dan BST tidak ada, Pak. Saya daftar baru tanggal 24/7/2020 jadi calon penerima PKH. Sampai sekarang belum ada kartunya, tapi sudah diusulkan. Pendamping PKH yang datang tempo hari namanya, Pak Riky,” kata Nurgaya. Dia juga mengaku belum ada Kartu BPJS.

Terbalut derita nenek moyang

Ibu Nurbia, mengaku terbalut penderitaan sepanjang hidupnya.

“Saya ini istri ketiga dari suami saya. Suami saya meninggal saat anak-anak kami masih kecil. Anak kedua saya lumpuh sejak lahir. Entah dosa apa yang membuat kami sekeluarga menderita seperti ini,” ujar Nurbia meratapi takdirnya.

Terpisah, Muhamad Nasir (41), paman Ibu Nurbia, menerangkan kisah senada tentang keadaan keluarganya tersebut. Menurut Nasir, dua keponakannya, Nurbia dan Nurgaya, terlahir dalam lingkaran keluarga yang mengalami riwayat penyandang disabilitas dari keturunan Ibu mereka.

“Almarhum Ayah mereka bernama, Abdul Salam, dan almarhumah Mama bernama, Siti Masita, yang memiliki riwayat tuna netra. Jadi, ini diwariskan hingga kepada keturunannya, anak dan cucu-cucunya,” tutur Nasir kepada para wartawan di Kenari, Minggu (2/8/2020). *(Robert Perkasa)

Artikel ini telah dibaca 949 kali

Baca Lainnya
x