Ekonomi Feature

Selasa, 4 Agustus 2020 - 13:47 WIB

8 bulan yang lalu

logo

Nenek Siti Ojom, tampak serius anyam tikar di gubuk tepi jalan Trans Flores. (Foto: Rudi Haryatno)

Nenek Siti Ojom, tampak serius anyam tikar di gubuk tepi jalan Trans Flores. (Foto: Rudi Haryatno)

Nenek Ojom, Anyam Tikar di Tepi Jalan Raya

Mbeliling, floreseditorial.com – Nenek Siti Ojom (70), pengrajin tikar di Kampung Mamis, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Ibu janda itu tidak menghiraukan lalu lalang kendaraan yang melintas di ruas jalan Trans Flores. Nenek Ojom, fokus dengan rutinitasnya menjual bensin eceran sambil menganyam tikar di sebuah gubuk. Gubuk itu berada samping gerai bensin di tepi jalan raya Trans Flores.

Nenek sembilan cucu ini mengaku lebih nyaman berada di gubuk tepi jalan raya itu, ketimbang duduk di rumahnya. Ia beralasan, nyaman menganyam tikar di pinggir jalan karena banyak calon pembeli lalu lalang di jalan raya. Sangat ramai dan strategis.

Gubuk berukuran 2×2 m itu, beratap seng dan berdinding terpal kusam warna orange dan sehelai papan triplek. Di bawah gubuk itulah, Nenek Ojom, menganyam tikar sembari menunggu pembeli bensin.

“Saya anyam di sini sambil menjual bensin. Bensin ini saya punya. Bukan titipan anak-anak saya, atau orang lain,” ujarnya saat ditanya media ini.

Nenek Ojom, sangat ramah menyapa media ini yang menghampirinya di gubuk itu, Sabtu (1/8/2020). Nenek Ojom, membentang kisah tentang keterampilannya menganyam tikar sejak menikah hingga lanjut usia. Anyam tikar baginya merupakan mata pencaharian yang bisa dikerjakannya setiap hari.

Nenek Ojom, menjelaskan, Ia memilih tepi jalan sebagai lokus menganyam tikar, bukan karena tidak mempunyai rumah. Ia menganyam tikar sambil menjual bensin eceran.

“Saya hanya fokus pada pengendara yang ingin beli bensin. Setelah melayani pembeli, saya lanjutkan anyam tikar,” ungkapnya.

Seperti disaksikan media ini di gubuk itu, jemari tangannya sangat cekatan dan lincah mengurai irisan daun pandan kering (re’a). Di sampingnya, ada sebilah pisau dan berbagai peralatan sederhana. Sebilah kayu yang disebutnya koes, untuk menghaluskan permukaan daun pandan. Ada juga benang wol untuk menjahit tepian tikar yang dianyam.

Nenek Ojom, jelaskan, tikar hasil anyamannya dijual di tepi jalan dan tidak dijual ke pasar. Para pembeli sering datang langsung ke rumahnya. Bahkan, ada yang pesan melalui keluarganya. Ukuran dan motif tikar dibuat sesuai pesanan.

“Harga tikar ini tidak mahal, Rp 100.000 saja. Kalau ada harga yang lebih dari itu, berarti pesanan khusus dengan paduan warna tertentu,” katanya.

Ia mengaku, untuk menghasilkan satu tikar berukuran 1×3 m, Nenek Ojom, membutuhkan waktu tiga sampai 5 hari.

Menganyam tikar merupakan rutinitas sehari-hari. Buah karyanya untuk menopang perekonomian keluarganya. Ia menceritakan, saat gadis dulu, Ia belum terbiasa menganyam tikar. Hanya sebatas membantu Ibunya yang saat itu rutin menganyam tikar. Membantu mengambil pandan, misalnya. Ia terampil merajut dedaunan pandan hingga menghasilkan sehelai tikar, karena dilatih Ibunya sejak masih gadis. Saat berkeluarga, Ia kemudian mengakrabi aktivitas tersebut.

“Saya bersyukur bisa menganyam tikar sampai usia tua. Kebutuhan kami terpenuhi dari hasil penjualan tikar,” tuturnya.

Perlu diwariskan

Nenek Ojom, mengungkapkan keprihatinannya terkait kurangnya minat Ibu-ibu zaman now menjadi pengrajin tikar. Menurutnya, tikar sebagai salah satu yang dibutuhkan dalam ritual adat Manggarai yang mestinya diwariskan dari generasi ke generasi. Tetapi, tidak banyak orang atau anak gadis yang mau menekuninya.

“Sekarang, lebih banyak usia senja seperti kami yang bisa menganyam tikar. Sementara, yang berusia remaja, atau muda-mudi sangat sedikit yang bisa dan punya minat menganyam tikar. Beberapa anak saya saja, ada yang tidak tahu menganyam tikar,” jelasnya.

Nenek Ojom, berharap pemerintah atau lembaga terkait jangan hanya memperhatikan pengrajin lain, seperti tas, topi, kain; tetapi juga pengrajin tikar.

“Tikar digunakan dalam setiap acara adat,” tutur Nenek Ojom. (Rudi Haryatno)

Artikel ini telah dibaca 454 kali

Baca Lainnya
x