Feature Sosial

Jumat, 31 Juli 2020 - 17:15 WIB

10 bulan yang lalu

logo

Kediaman, Markarius Putra Sepu Mbipi, bayi tujuh bulan yang menderita hidrosefalus. (Foto: Rian Laka)

Kediaman, Markarius Putra Sepu Mbipi, bayi tujuh bulan yang menderita hidrosefalus. (Foto: Rian Laka)

Mengintip Bayi Penderita Hidrosefalus, Berikut Kisah Pedihnya

Ende, floreseditorial.com – Kamis (30/7/2020). Hari masih pagi. Alam nampak cerah nan akrab. Namun seisi raga tak mampu menghalau rasa haru floreseditorial.com untuk segera tiba di Dusun Detusepa, Desa Rateroru, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Sebab, di kampung terpencil itu, mengaum isak tangis seorang bayi mungil berusia tujuh bulan. Namanya, Markarius Putra Sepu Mbipi. Buah kasih, Kritoforus Laka dan Susana Laka.

Setibanya di rumah orang tua bayi mungil itu, rasa haru seperti tercabik-cabik. Betapa tidak, kungkungan penyakit itu membuat, Putra, tak berdaya.

Kepada floreseditorial.com, Kritoforus Laka, menceritakan, Putra, dilahirkan 15 Januari 2020 di Puskesmas Saga. Saat menjejakkan bumi, Putra, sudah dalam kondisi tidak normal. Seperti tanpa kepala. Batok kepalanya rata serupa dahi. Hanya lingkaran kepada bagian belakang yang kelihatan. Putra, tidak menangis. Hanya diam.

Kondisi, Putra, seperti itu mendorong dokter Puskemas Saga merujuk ke Rumah Sakit Umum Ende. Usai ditangani tim medis RSUD Ende, Putra, bisa menangis.

Meski tanpa kantongi KIS dan BPJS, orang tuanya putuskan untuk tetap rawat di RSUD Ende. Hampir seminggu, Putra, mendapat perawatan intensif dari para medis itu.

Usai mendapat perawatan medis RSUD Ende, Putra, kembali ke kampung bersama orang tuanya.

Awalnya, sehat seperti bayi pada umumnya. Namun, seminggu usai tinggalkan RSUD Ende, Putra, mulai kejang-kejang. Atas gejala itu, Putra, harus kembali ke RSUD Ende guna mendapat perawatan intensif. Kata dokter, Putra, sehat-normal. Usai mendapat obat, Putra, kembali ke Detusepa-kampung asalnya.

Selama mengkonsumsi obat itu, puji Tuhan, Putra, tidak kejang lagi. Namun, hanya bertahan seminggu saja. Selanjutnya mulai kejang-kejang lagi. Karena merasa khawatir terhadap kondisi bayi, orang tua mendatangi para pendoa. Sayangnya, tidak membawa dampak apa-apa. Putra, tetap kejang-kejang.

Selanjutnya, orang tua, Putra, mendatangi dokter praktik CIJ. Sekali lagi, hasilnya tetap sama. Tidak ada perubahan. Akhirnya, diputuskan untuk mendatangi salah seorang pendoa di Kota Ende. Berkat sang pendoa, Putra, tak kejang lagi.

Namun, mulai muncul gejala sakit lain. Seperti panas tinggi. Lantaran panas tinggi semakin menjadi-jadi, mendorong orang tua, Putra, sepakat untuk kembali ke RSUD Ende menemui dokter spesialis. Atas pemeriksaan intensif dokter, Putra, divonis kelebihan cairan dalam otak atau penyakit hidrosefalus. Cairan dalam kepala, Putra, bisa dikeluarkan lewat operasi. Tidak ada cara lain.

Mendapat informasi itu, orang tua, Putra, seperti petir menyambar di siang bolong. Betapa tidak, uang tidak punya. Perawatan sebelum-sebelumnya mengandalkan pinjaman tetangga yang hingga kini belum dikembalikan.

Biaya menjadi kendala. Orang tua, Putra, pun putuskan untuk pulang kampung. Saat ini, kedua orang tua hanya berpasrah menanti keajaiban yang datang.

Selama ini, Putra, menangis terus, tak kenal waktu. Paling menyedihkan, Putra, menangis di malam hari. Sebab hampir seisi kampung datang ke rumah orang tua, Putra.

“Saya tidak tahu harus berbuat apa, karena dokter spesialis menyarankan operasi di rumah sakit, tetapi kami tidak punya uang,” tutur Ibunda, Putra.

Menurutnya, untuk biaya makan minum saja susah. Apalagi di musim corona, seperti ini. Sementara, seluruh tabungan kuras habis membiayai pemeriksaannya. Saat ini, kami pasrah sambil merawatnya.

“Dari pagi sampai malam menangis terus. Kepalanya semakin besar. Sekarang kami hanya berdoa. Tuhan sembuhkan anak kami,” katanya sambil berderai air mata. (Rian Laka)

Artikel ini telah dibaca 248 kali

Baca Lainnya
x