Feature

Minggu, 31 Mei 2020 - 16:53 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Situs Bung Karno di Ende. (Foto: Rian Laka)

Situs Bung Karno di Ende. (Foto: Rian Laka)

Mengenang "Jasmerah" Bung Karno di Kota Ende (1)

Floreseditorial.com, Kota Ende – Ibukota Kabupaten Ende memiliki jejak peradaban amat penting bagi seorang Ir. Seokerano. Betapa tidak. Di tempat pembuangan inilah, Presiden pertama RI ini menenun tapak historis dan fondasi penting bagi Negara Republik Indonesia. Tenunan historis itu diperoleh ketika Ir. Soekarno, berhening, bermenung di bawah pohon sukun dekat Lapangan Perse Ende.

Menyongsong Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni 2020, floreseditorial.com berkunjung ke Situs Bungkarno di Ende. Pengasingannya selama empat tahun di Kota Ende meninggalkan banyak kisah. Mengurai banyak fakta sejarah. Menukilkan keabadian bagi Bangsa Indonesia.

Tepatnya 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938, Ir. Soekarno bermukim di daerah danau tiga warna ini. Kurun waktu tersebut, kendati penuh terpaan, ancaman dan tekanan penjajah Belanda, Ir. Soekarno tetap pada cita-citanya. Kehendaknya yang paling dalam adalah mencetak sejarah panjang Indonesia menuju Kemerdekaan.

Itu sebabnya, mengenang Hari Lahirnya Pancasila, 1 Juni setiap tahun, selalu kembali atret ke pengasingan Bung Karno. Kota Ende adalah kanvas hidup bagi seorang Ir. Soekarno, menulis indah, melukis butir-butir keadaban bangsa Indonesia. Mimpi besar lahir dari seorang cendekiawan muda berjiwa revolusioner justru, ketika akal kesadarannya bermenug di bawah rindangan pohon sukun. Menatap puncak Gunung Iya, melirik buih ombak di pantai itu. Ir. Soekarno seorang religius intelektual itu berakrab dengan sesama warga. Dalam jelajah intelektualnya Ir. Soekarno berhasil menemukan Dasar Negara Pancasila di Ende, Flores NTT.

Meski selama pengasingan di Ende, ruang gerak seorang Ir. Soekarno dibatasi, tetapi dalam kedalaman refleksinya Ia menerima sebagai bagian dari resiko perjuangannya. Dan untuk mengisi hari-hari sepi, selain berhening di bawah pohon sukun, Ir. Soekarno mendatangi perkampungan sekitar di Ende. Ia menyapa dan berdialog dengan warga. Bergaul dengan siapa saja dari berbagai agama, suku, ras bahkan golongan.

Tidak hanya itu, narasi hari hidupnya, Ia bahasakan dalam syair-syair drama. Drama “Rahasia Kelimutu” menjembatani hakekat permenungannya mengungkap fenomena mistis. Ia juga membaca buku di perpustakaan Katolik Kathedral Ende. Berdiskusi bersama Misionaris SVD, terutama Pastor Paroki Ende, Gerardus Huijtink.

Ir. Soekarno mendambakan sapaan alam yang dalam, dengan bermeditasi di Gunung Wongge, Gunung Meja, Gunung Iya dan Gunung Kelimutu. Ia mengenal alam Ende dengan segala cerita mistis dibaliknya.

(Rian Laka/bersambung)

Artikel ini telah dibaca 308 kali

Baca Lainnya
x