Ekonomi Feature

Selasa, 26 Mei 2020 - 08:42 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Ibu Magdalena Lobe Dhiu dan gerobak jualannya. (Foto: Martin Lusi)

Ibu Magdalena Lobe Dhiu dan gerobak jualannya. (Foto: Martin Lusi)

Menopang Hidup dengan Gerobak Sayur

Floreseditorial.com, Bajawa – Langkahnya gontai sambil mendorong gerobak jualannya. Saban hari gerobak sederhana itu dipenuhi beraneka sayuran mulai buah labu, kangkung, wortel, daun papaya, sawi, tomat dan beragam jenis bumbu dapur.

Sebagian warga di Kelurahan Ngedukelu, Kecamatan Bajawa sudah mengenal perempuan paruh baya ini. Ibu lima anak bernama lengkap Magdalena Lobe Dhiu ini sudah lama mengeluti dunia perdagangan, sebagai penjual sayur keliling kota dan desa.

Ia memulai aktivitas berjualan sayur mulai pukul 9.00 hingga pukul 15.00 WITA. Sebelum berangkat, Ia ke Pasar Bobou untuk berbelanja.

Ditemui floreseditorial. com, Selasa (26/5/ 2020), Ibu Lena demikian Dia biasa disapa mengaku, Ia berjualan sayur untuk menopang ekonomi rumah tangganya. Apalagi masa pandemi covid-19 seperti sekarang ini, sebagai Ibu rumah tangga, Ia mesti pandai-pandai mengatur ekonomi rumah tangga agar asap dapurnya tetap menyala.

Sejak pandemi corona, praktis membuat situasi ekonomi keluarganya banyak berubah. Lagi pula, suaminya dirumahkan akibat corona. Sang suami yang bekerja sebagai montir terpaksa berhenti, entah sampai kapan.

“Saya harus keliling untuk berjualan karena suami berhenti dari montir. Ia lebih banyak tinggal di rumah menjaga anak-anak,” ujarnya dengan nada datar.

Perempuan berusia 42 tahun ini mengisahkan bahwa sebelum menetap di Bajawa tahun 2010, dirinya bersama keluarga pernah merantau selama 18 tahun di Makassar. Selama di Makassar, Ia bekerja sebagai tukang roti keliling.

Berbekal pengalaman di tanah rantauan, Ia menjadi pedagang Roti di Bajawa. Namun dalam perjalanan, Ia melihat semakin banyak pesaing berjualan roti seperti dirinya. Ia pun membanting stir, memilih berjualan sayur dan bumbu dapur keliling kota dan desa. Dengan gerobak sederhana, Ia keluar masuk lorong menjual sayuran kepada para pelanggan dan pembeli lainnya.

“Awalnya saya jualan roti, tapi dalam perjalanan, saya lihat banyak sekali yang jualan roti. Sehingga saya memilih kerja jaga toko dan sekarang jualan sayur keliling,” katanya mengenang kembali perjalanan hidupnya.

Kini Ibu Lena bersama keluarga, tinggal bersama kakak sulung mereka. Ia mengaku, hasil usahanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia pun menabung sedikit-sedikit, dengan harapan suatu waktu mereka bisa punya rumah sendiri. Tidak “nebeng” lagi bersama kakak kandungnya.

Penulis: Martin Lusi
Editor: Kornelius Rahalaka

Artikel ini telah dibaca 1550 kali

Baca Lainnya
x