Feature

Selasa, 26 Mei 2020 - 12:42 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Area persawahan. (Foto: Ist)

Area persawahan. (Foto: Ist)

Mata Wae, Mutiara yang Masih Terpendam

Floreseditorial.com, Sano Nggoang – Desa Mata Wae terletak di poros paling selatan Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. Berdasarkan sejarah, kawasan Mata Wae merupakan Pusat Pemerintahan Kedaluan pada zaman pemerintahan kolonial, yang dikenal dengan nama Kedaluan Mata Wae.

Wilayah Desa Mata Wae meliputi 5 kampung, dengan jumlah penduduk mencapai 1512 jiwa. Mata Wae termasuk salah satu daerah terpencil dengan kondisi infrastruktur yang buruk.

Meskipun demikian, Mata Wae menyimpan mutiara terpendam. Daerah Mata Wae adalah sentral ekonomi yang penting, mengingat kawasan ini merupakan jalur poros penghubung utama bagi sejumlah desa seperti Sano Nggoang, Pulau Nuncung, Golo Manting, Golo Mori, Golo Sengang dan Nanga Bere.

Beberapa masalah mendasar yang dihadapi oleh masyarakat setempat antara lain di bidang pertanian. Tercatat masih banyak lahan kering dan juga lahan basah (sawah) yang belum dikelola, lantaran ketiadaan irigasi atau sebagian lahan masyarakat telah dikonversi menjadi bagian dari kawasan lindung.

Selain itu, menurunnya hasil produksi pertanian akibat terserang berbagai hama dan penyakit seperti hama wereng, tikus, walang sangit, dan binatang liar lainnya.

Kurangnya ketersediaan alat produksi seperti pupuk, modal dan rendahnya daya beli masyarakat juga berdampak langsung terhadap menurunnya hasil panen para petani.

Dibidang agraria, disebutkan hampir 2/3 wilayah hak kelola masyarakat adat Mata Wae, telah diklaim oleh rezim pemerintah masa lalu sebagai bagian dari kawasan lindung. Akibat pengambilalihan lahan-lahan masyarakat tersebut, banyak warga kehilangan aset sekaligus kehilangan akses untuk mendapatkan sumber-sumber penghidupan.

Topografi Mata Wae yang terdiri dari gugusan perbukitan dan lembah membuat kawasan ini sangat cocok bagi pengembangan ternak seperti sapi, kerbau, kuda, kambing dan hewan peliharaan lainnya. Namun, masyarakat di kawasan ini kerapkali dibuat kewalahan mengatasi hama dan penyakit yang sering menyerang ternak peliharaan mereka.

Di bidang pendidikan juga boleh dibilang masih membutuhkan perhatian serius semua pihak, terutama pemerintah. Tercatat ada beberapa sekolah dibangun di wilayah itu dengan fasilitas yang masih sangat minim. Fasilitas sekolah belum sebanding dengan jumlah siswa/i termasuk para pendidiknya.

Tingkat kesehatan masyarakat pun boleh dibilang masih belum memadai. Pada musim hujan misalnya, banyak masyarakat terserang beberapa jenis penyakit seperti malaria dan ispa. Populasi nyamuk pada musim hujan cukup tinggi.

Sementara itu, sebagian masyarakat belum memiliki MCK, demikian pula fasilitas posyandu dan pelayanan kesehatan belum tersedia secara memadai.

Selain minimnya fasilitas kesehatan, perangkat posyandu dan tenaga medis juga belum memadai. Akses infrastruktur jalan dan jembatan dari dan ke Mata Wae masih cukup memprihatinkan. Sementara sebagian besar jalan yang menghubungkan kampung atau desa tetangga masih berupa jalan setapak atau telford, sehingga sulit dilalui kendaraan.

Pada musim hujan, daerah itu terisolir dan hanya beberapa kampung yang bisa diakses oleh kendaraan. Beberapa jembatan penghubung antar kampung atau desa belum dibangun. Sebut misal jembatan Wae Mese, Wae Kli’i, Wae Racang, Wae Lia,Wae Wake dan Wae Kalo. Ketiadaan jembatan membuat penduduk setempat sulit bepergian keluar wilayah.

Selain infrastruktur jalan dan jembatan, kondisi infrastruktur pertanian juga dalam kondisi serupa. Banyak lahan sawah yang rusak akibat ketiaadaan saluran irigasi yang baik.

Tercatat saluran irigasi sawah Ajo, Kleot, Karing, Angkor, Mberingin, Cempa, Lenkong Mese, Wue, Wae Wunis, Lengkong Doang, Malok Mbala, Watu Katur dan Polo mengalami kerusakan parah mengakibatkan gagal panen atau puso.

Beberapa proyek irigasi telah dibangun, namun belum selesai dikerjakan dan sebagian proses pembangunan mengalami kerusakan sebelum dimanfaatkan akibat rendahnya kualitas bangunan.

Masalah lain yang tidak kalah krusial yakni keterbatasan sumber daya manusia, sebagai pengelola dan pelaksana pembangunan di desa.

*(Kornelius Rahalaka)

Artikel ini telah dibaca 235 kali

Baca Lainnya
x