Sosial

Minggu, 24 Mei 2020 - 15:52 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Bapak Mateus Hamsi memberikan sumbangan sembako kepada Syahrul di Wae Mata, Desa Gorontalo - Labuan Bajo, Sabtu (23/5/2020). (Foto: Robert Perkasa)

Bapak Mateus Hamsi memberikan sumbangan sembako kepada Syahrul di Wae Mata, Desa Gorontalo - Labuan Bajo, Sabtu (23/5/2020). (Foto: Robert Perkasa)

Derita Syahrul Diusir dari Pelabuhan

Floreseditorial.com, Labuan Bajo – Tahun 2019 lalu, Arman menjemput Syahrul datang ke Kota Labuan Bajo, Ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Sebelumnya Syahrul tinggal di Nangalili, Kecamatan Lembor Selatan. Di Kota Labuan Bajo, Arman dan Syahrul memulai usaha warung kopi dekat pintu masuk Pelabuhan Pelni Labuan Bajo. Pendapatan bersih dalam sehari mencapai Rp 600.000. Namun usaha itu tidak bertahan lama. Sebab petugas Pelabuhan Pelni Labuan Bajo menegur dan mengusir keduanya.

Syahrul (20). Pemuda energik. Sulung dari empat bersaudara. Seikan, Tiara Kurniawati dan Zulfikar adalah saudara dan saudarinya. Buah hati bapak Arman dan ibu Sehora. Syahrul lahir tahun 2000. Saat dilahirkan, kondisi fisiknya normal. Entah mengapa, seiring pertumbuhan, Syahrul mengalami cacat fisik. Cacatnya itu tanpa sebab dan bersifat permanen hingga sekarang. Syahrul tidak bisa melihat, mendengar, dan bicara. Untuk makan saja disuap. Jalan pun dipapah. Dengan kondisi tersebut, Syahrul menjalani hari-hari hidupnya di rumah.

Sementara tiga adiknya, Seikan, Tiara dan Zulfikar mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan formal. Tiara duduk di bangku SMA. Seikan dan adik bungsunya sedang menempuh pendidikan di SMP Lembor.

Syahrul dan Arman, ayahnya di rumah Bapak Mateus Hamsi. (Foto: Robert Perkasa)

Ayah dan ibunya adalah petani sawah di Kampung Ende, Desa Nangalili, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat. Sehari-hari bekerja berteman lumpur dan bermandi peluh di sawah, menafkahi empat orang buah hati mereka.

Ibu Hijrah ke Negeri Jiran

Berjuang demi masa depan si buah hati mendorong Sehora, hijrah ke Negeri Jiran. Saat itu Syahrul baru berusia 10 tahun. Sehora mengadu nasib ke Malaysia sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia rela meninggalkan suaminya dan empat buah hatinya.
Menghidupi keempat anaknya tanpa sentuhan kasih sayang ibu, Arman pun membawa ketiga anaknya, Seikan, Tiara dan Zulfikar tinggal bersama nenek mereka di Nangalili. Arman kemudian “merantau” ke Kota Labuan Bajo.

Diusir Petugas Pelabuhan

Hanya bertahan tujuh bulan Arman membuka usaha warung kopi di Pelabuhan Labuan Bajo. Selama kurun waktu tersebut usahanya berhasil. Penghasilan setiap hari sebesar Rp 600.000 adalah rejeki yang selalu Ia dapatkan. Namun usahanya itu tidak bisa dilanjutkan. Arman diusir pegawai pelabuhan. Turut tergusur bersama Arman adalah sahabatnya yang berusaha jual bakso.

Lantaran diusir dari tempat usahanya, Arman bersama Syahrul pergi ke rumah Mantan Ketua DPRD Manggarai Barat, Mateus Hamsi. Di rumah Bapak Mateus Hamsi, Arman, menceritakan bahwa sebelum corona Ia membuka usaha warung kopi di pelabuhan Pelni untuk menghidupi anak-anaknya. Namun setelah Ia diusir dari Pelabuhan itu, Ia mengaku kesulitan apalagi di tengah pandemi corona seperti sekarang.

“Sebelum corona, saya bawa Syahrul ke Sape dan Bima, NTB memohon sumbangan untuk biaya operasinya di Bali. Kami dapat sumbangan sebesar Rp 6 juta. Di Labuan Bajo saya juga mohon bantuan untuk anak saya. Tadi saya pulang dari Wae Sambi dapat bantuan dari warga sebanyak Rp 300.000. Pak Mateus beri bantuan sembako berupa beras, minyak goreng, mie goreng, telur ayam dan sejumlah uang kepada Syahrul,” uangkapnya saat bincang-bincang dengan floreseditorial.com, Sabtu (23/5/2020).

*(Robert Perkasa)

Artikel ini telah dibaca 1899 kali

Baca Lainnya
x