Ekonomi Sosial

Sabtu, 23 Mei 2020 - 09:22 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Rikardus Waso Ria dengan alat musik di Pasar Bobou. (Foto: Martin Lusi)

Rikardus Waso Ria dengan alat musik di Pasar Bobou. (Foto: Martin Lusi)

Mengusir Kejenuhan Pandemi Corona, “Opereter” Musik Pasar Bobou Beraksi

Floreseditorial.com, Bajawa – Bagi orang Flores pada umumnya, teristimewa bagi orang Bajawa, Kabupaten Ngada, menyebut kata “opereter” pikiran langsung tertuju pada suasana hura-hura, berpesta pora dan bersenang-senang. Entah sudah merupakan ungkapan kebiasaan di wilayah ini, operator sound system sering disebut dengan istilah opereter. Namun, opereter yang satu ini bukan operator di setiap acara pesta, tapi saban hari setia menghibur para pedagang pasar, tepatnya di Pasar tradisional Bobou, Kecamatan Bajawa.

Hampir setiap hari, Pasar Bobou gegap gempita oleh alunan musik yang diputar di sebuah ruko yang terletak di area pasar sayur dan buah, serta ikan dan daging. Seorang lelaki paruh baya tampak santai menikmati musik Ja’I, lagu berirama rege yang sangat digandrungi oleh khalayak. Di lokasi yang berada di atas ketinggian itu, diletakkan sejumlah alat musik berupa dua speaker aktif, ampli dan toa.

Rikardus Waso Ria, sang opereter yang ditemui floreseditorial.com, Sabtu (21/5/2020) mengisahkan, untuk mengisi waktu luang dan untuk mengusir kejenuhan, setiap hari pasar, Ia selalu memutar musik untuk menghibur para pengunjung pasar.

Rikardus sudah bekerja di pasar tersebut sejak tahun 2013 lalu. Ia bekerja sebagai petugas kebersiahan pasar. Ia bekerja setiap hari dari jam 06.00 pagi sampai jam 12.00 siang.

Setiap hari Ia masuk kerja bersama rekan-rekan sejawatnya. Mereka membersihkan sampah dan menjaga keamanan pasar, agar selalu bersih dan nyaman bagi semua pengunjung pasar. Untuk mengisi waktu luang atau mengusir kejenuhan, Ia selalu membuka lagu-lagu untuk menghibur pedagang dan pembeli yang datang ke pasar. Peralatan musik adalah milik rekannya yang selalu di bawa ke pasar Bobou.

Karena pekerjaan sebagai tukang kebersihan sekaligus menghibur para pengunjung pasar itulah, pemuda berkulit gelap ini sering disapa sebagai ‘bung opereter’ oleh para pedagang. Ia merasa bangga dipanggil opereter, karena memang setiap hari Ia selalu memutar musik untuk menghibur pengunjung yang datang.

“Saya senang menjadi opereter. Setiap hari kami buka musik untuk temani kami saat bekerja, juga saat beristirahat. Kami selalu menghibur para pengunjung pasar,” tutur Rikard dengan nada bangga.

Pria lulusan SMK Sanjaya Bajawa ini mengisahkan, selama bekerja sebagai petugas kebersihan, hubungan dengan pedagang terjalin akrab layaknya keluarga, sehingga hampir setiap hari Ia dan rekannya mendapatkan oleh-oleh dari pengunjung pasar, entah berupa sayur-mayur, buah-buahan atau bumbu-bumbu pasar.

Semua hadiah tersebut Ia bawa pulang ke rumah. Suasana pasar semakin semarak oleh alunan musik yang diputarnya dengan volume menggelegar. Lagu-lagu yang diputarnya pun disesuaikan dengan selera pengunjung pasar. Pada umumnya lagu-lagu bernuansa rege, pop daerah seperti Ja’I dan Gawi.

Ia mengaku, tak sedikit pedagang yang me-request lagu dan mereka menari bersama di tengah keramaian pasar untuk mengusir kejenuhan, atau di kala sedang sepi pengunjung pasar.

“Mama-mama kadang berteriak minta ganti lagu dari tempat jualannya. Dan mereka akan menari dan saling menghibur bersama di tengah pasar. Pokoknya suasananya seru,” tambahnya.

Ditengah masa pandemi corona seperti sekarang ini, pengunjung pasar Bobou memang menurun drastis. Namun situasi corona tidak menghalangi Rikardus dan rekan-rekannya untuk terus beraktivitas, menjaga kebersihan dan suasana pasar agar selalu bersih dan nyaman.

Tugasnya sebagai opereter musik untuk menghibur pengunjung pasar pun terus Ia lakoni sebelum aktivitas pasar berakhir. Ia mengaku, meskipun pekerjaan sebagai opereter musik di pasar tidak dibayar alias gratis, Ia bangga karena setiap hari bisa menghibur pedagang dan pengunjung yang datang, terutama di tengah kemuraman akibat pandemi virus corona.

Penulis: Martin Lusi
Editor: Kornelius Rahalaka

Artikel ini telah dibaca 250 kali

Baca Lainnya
x