Ekonomi Sosial

Sabtu, 23 Mei 2020 - 10:44 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Ibu Lusia Muku. (Foto: Yohanes Mondo)

Ibu Lusia Muku. (Foto: Yohanes Mondo)

Ibu Sebatang Kara Dalam Teduhan Rumah Reot

Floreseditorial.com, Boawae – Hidup di bawah garis kemiskinan dan tinggal di rumah yang nyaris roboh, tentunya tidak diinginkan semua orang. Namun bagi segelintir orang, terpaksa harus dijalani akibat keterbatasan ekonomi.

Demikianlah yang dilakoni, Lusia Muku (60). Janda lima anak ini terpaksa melewati hari-hari hidupnya di rumah itu lantaran pilihan lain tidak ada. Tetap bertahan adalah takdir ketika harapan sudah sampai di ujung perjuangan. Karena itu, warga RT03/RW02, Desa Focolodorawe, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo tetap bertahan di rumah reot itu. Di tempat itulah wanita tua itu mengisi sisa-sisa hidupnya.

Lusia, tepaksa menjalani hidup di rumah itu, sejak ditinggalkan sang suami sepuluh tahu lalu. Rumah dengan material utama bambu dan beratap seng itu, sesungguhnya tidak layak huni. Tetapi mau bagaimana lagi. Itu pun berkat bantuan pemerintah melalui program transmigrasi lokal. Dinding rumahnya sudah lapuk dan berlubang. Sejumlah tiang penyangga terlihat sudah keropos termakan rayap.

“Dinding rumah sudah rusak. Yang berlubang saya tutup dengan seng bekas sekadar bisa terlindung saat panas dan malam tiba,” ungkap Lusia sambil berderai air mata.

Selain tiang penyangga dan dinding rumah yang sudah rusak, atap sengnya pun sudah karat dan berlubang. Pancaran sinar matahari siang menembus isi kamar rumahnya. Tetapi Ia tetap bertahan. Demikian pun saat musim hujan tiba, pasti rumahnya tergenang air.

“Kalau musim hujan semua barang dalam rumah basah, akibat air tergenang. Meski demikian, saya tetap bertahan di rumah ini. Meski kondisi bangunan sudah miring. Bagian rumah yang sangat miring saya sanggah dengan tongkat kayu. Saya kuatir bila angin sangat kencang pasti rubuh,” imbuhnya.

Hingga sat ini, tutur Lusia, bantuan dari pemerintah tidak seberapa. Sementara bantuan perumahan, praktis tidak diperolehnya karena tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas bantuan itu.

“Mau harap siapa. Keluarga tidak ada yang perhatikan. Saya sebenarnya dapat bantuan rumah tetapi saya ini tidak sekolah, jadi tidak bisa terima bantuan itu. Harap anak-anak mereka semua merantau. Saya seorang diri dan pasrah di rumah reot ini,” ungkapnya jujur.

Ketua RT 03, Desa Focolodorawe, Siprianus Juwa, mengatakan sebagai pemerintah terdekat, pihaknya akan menyampaikan persoalan yang dialami warganya. Kesulitan yang menimpa warganya terutama kesulitan tempat tinggal. Kecuali itu, pihaknya mendesak pemerintah desa setempat agar segera mencari solusi mengatasi persoalan yang dialami warganya itu. Selain itu, bagi warga yang mengalami nasib yang sama mendapat perhatian yang sama pula.

“Sebagai RT, saya akan sampaikan kepada pemerintah desa. Jika dibutuhkan saya lapor ke bupati. Karena memang kondisi rumah tersebut sudah tidak layak huni,” ungkap Dia.

Penulis: Yohanes Mondo
Editor: Kanis Lina Bana

Artikel ini telah dibaca 272 kali

Baca Lainnya
x