Ekonomi Feature

Kamis, 21 Mei 2020 - 14:35 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Wartawan senior, Robert Perkasa dan Kanis Lina Bana sedang wawancara seorang ibu petani sawah di Kaper. (Foto: Ist)

Wartawan senior, Robert Perkasa dan Kanis Lina Bana sedang wawancara seorang ibu petani sawah di Kaper. (Foto: Ist)

Jeritan Petani di Bawah Kolong Pondok

Floreseditorial.com, Labuan Bajo – Di bawah kolong pondok, ibu empat anak berkisah tentang hasil panen sawahnya yang membuatnya tidak lagi tersenyum sumringah. Ia memang baru saja selesai panen. Hasil panenannya sebanyak 17 karung. Namun Ia mengaku, modal usaha yang Ia keluarkan untuk membiayai seluruh operasional lahan sawahnya jauh lebih besar.

“Untuk tutup modal saja tidak cukup. Karena sedari awal menggarap lahan hingga panenan serba biaya. Terhitung sejak Maret hingga Mei. Sejak sawah dibajak, tanam, pemupukan, parawatan tanaman seperti semprot hingga panen,” ujar Kornelia Surni.

Ibu Surni, seorang ibu rumah tangga, warga RT 10, Dusun Kaper, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Ia seorang petani sawah yang memiliki lahan seluas 5 bujur (50×50 meter persegi) di lokasi Tompong, KM 5 arah selatan Kota Labuan Bajo.

Kamis (21/5/2020) siang, floreseditorial.com menyambangi pondoknya di tengah hamparan persawahan Tompong. Tidak jauh dari pondok mungil, tampak sejumlah petani sedang menjemur padi di petak-petak sawah yang telah diketam. Sekira 10 meter dari petak jemuran padi, kami mendapati Ibu Surni sedang berteduh di bawah kolong pondok bersama sang suami, Anton Tamur. Tak lama berselang beberapa orang anak datang mendekati kami sambil duduk di bawah kolong pondok itu.

Di bawah kolong pondok, Ibu empat anak ini berkisah, mereka baru saja selesai panen padi. Hasil panenan sebanyak 17 karung. Namun satu karung gabah, jika dikonversi dengan beras sekitar 35-40 kg. Sementara harga beras saat ini sangat murah Rp 350 ribu per karung ukuran 50 kg. Padi 17 karung kalau dirupiahkan hanya dapat Rp 5 juta. Sementara modal usahanya lebih besar dari itu.

“Benar hasil panen 17 karung, tapi kita ada keluarga dan adik-kakak. Ya biar sedikit mereka juga dapat bagian,” ketus Kornelia Surni datar.

Serba Sewa

Ibu Surni menguraikan, biaya jasa mesin traktor untuk bajak satu bujur lahan, Rp 150.000. Untuk lima bujur lahan sawahnya menghabiskan Rp 750 ribu. Pada saat tanam, Ia juga menyewa tenaga harian Rp 80 ribu per orang (perempuan) dan Rp 100 Ribu / hari (laki-laki).

Sawah seluas 5 bujur bisa selesai tanam dalam sehari jika tenaga harian berjumlah delapan orang perempuan. Bila dikalkulasi jumlah tenaga kerja dan upah harian, maka kami harus keluarkan biaya Rp 640.000. Jumlah ini belum terhitung dua orang tenaga laki-laki angkut bibit dengan upah Rp 100.000 per hari. Total biaya tanam Rp 840.000. Jumlah ini masih tambah lagi dengan urusan kopi, gula, rokok dan lauk. Hitung-hitung kotor biaya untuk sekali tanam sekitar Rp 1.000.000.

Untuk pemupukan, Ia harus membeli pupuk phonska di toko seharga Rp 150.000 per karung. Pengendalian hama, Ia juga harus mengeluarkan biaya Rp 120.000 untuk beli pestisida jenis virtako. Penyemprotan gulma dan hama dilakukan 14 hari setelah tanam. Pada saat panen juga serba sewa tenaga harian.

“Kalau dihitung semua biayanya, lebih banyak modal yang keluar dari pada hasilnya”, kata Ibu Surni diamini suaminya, Anton Tamur.

Ditanya tentang bantuan pemerintah di tengah pandemi virus corona, Ia mengaku baru sekali mendapat Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kemensos RI sebesar Rp 600.000 selama tiga bulan ke depan. Namun Ia masih berharap bantuan pemerintah karena hasil panen padi tidak cukup bertahan untuk beberapa bulan ke depan.

“Baru pertama kali ini saya terima bantuan pemerintah. Sebelumya tidak pernah”, ujarnya.

Ia juga mengharapkan bantuan pemerintah karena di wilayah Dusun Kaper masih banyak warga terdampak corona yang belum tersentuh bantuan pemerintah.

Dampak pandemi corona mengepung lumbung pangan para petani sawah. Balepotan lumpur dan tersengat panas matahari selama kurang lebih tiga bulan, mulai saat bajak sawah, menanam hingga panen. Sebelum corona, petani sawah umumnya tersenyum sumringah saat musim panen. Namun saat wabah corona melanda, para petani bekerja sambil mengutang. Hasilnya tidak ada hasil.

*(Robert Perkasa)

Artikel ini telah dibaca 236 kali

Baca Lainnya
x