Ekonomi Feature Sosial

Kamis, 21 Mei 2020 - 05:06 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Filomena Bita Kraeng, salah satu pedagang Pasar Barter Wulandoni, Kabupaten Lembata. (Foto: Benediktus Kia Assan)

Filomena Bita Kraeng, salah satu pedagang Pasar Barter Wulandoni, Kabupaten Lembata. (Foto: Benediktus Kia Assan)

Filomena Bita Kraeng: “Kami Bisa Makan Ikan Lagi”

Floreseditorial.com, Lewoleba – Meskipun Kabupaten Lembata dikabarkan belum terpapar virus corona, setidak-tidaknya untuk sementara waktu dan berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan oleh para tim medis, namun pandemi virus ini telah melumpuhkan roda perekonomian masyarakat setempat.

Hampir tiga bulan lamanya, masyarakat Lembata memilih tinggal di rumah karena harus mengikuti protokol kesehatan demi menghindari corona. Aktivitas hingar bingar berkumpul di tengah keramaian terhenti untuk sementara waktu. Banyak toko dan pasar rakyat ditutup untuk umum atau dibatasi aktivitasnya secara ketat. Setidaknya, itulah potret nyata yang dirasakan oleh masyarakat Lembata.

Namun beberapa hari ini, masyarakat Lembata perlahan-lahan mulai keluar dari situasi penuh kemuraman akibat ancaman virus corona. Beberapa pasar tradisional mulai kembali dibuka untuk umum. Sejumlah pasar barter yakni transaksi melalui penukaran barang dengan barang kembali menggeliat. Pasar Barter Wulandoni, Pasar Barter Leworaja dan Pasar Barter Lamalera mulai tampak ramai dikunjungi para pedagang dan pembeli.

Pasar Barter Wulandoni di Kecamatan Wulandoni misalnya, pada hari Sabtu (16/05/2020) lalu mulai ramai dikunjungi warga dari berbagai kampung dan desa. Di tempat ini mereka saling bertemu. Mereka adalah warga yang datang dari pedalaman dan dari pesisir pantai. Ratusan orang tumpah ruah di area pasar itu.

Mereka bertemu dan saling tawar menawar antara penjual dan pembeli. Meskipun pasar barter sudah dibuka untuk umum, namun para pengunjung tetap diwajibkan mengikuti protokol kesehatan antara lain, menjaga jarak dan memakai masker.

Di area pasar, para petugas pasar mengatur jarak duduk bagi para pedagang. Masing-masing pedagang ditempatkan batu dengan jarak sekitar 1-2 meter. Batu-batu itu akan dijadikan tempat duduk bagi para pedagang.

Ada tempat khusus bagi para pedagang asal wilayah pedalaman seperti para penjual sayur, ubi, pisang dan jagung, demikian halnya untuk orang-orang pesisir seperti penujual ikan, garam dan hasil laut lainnya, disiapkan pula tempat duduk dari batu.

Mama Filomena Bita Kraeng, warga Kampung Lewuka, Desa Belobao, Kecamatan Wulandoni merasa gembira dan senang karena Ia bisa kembali ke pasar menjual hasil kebunnya. Ibu enam anak ini bahagia dan merasa bersyukur atas dibukanya kembali pasar barter Wulandoni.

“Kami senang sekali. Saya dapat ikan mentah dan ikan kering. Tadi tukar dengan pisang dan buah labu. Kami bisa makan ikan lagi,” ujar Mama Ela dengan nada girang.

Kampung Lewuka memang bukan desa yang jauh dari pasar barter Wulandoni. Kampung ini saban hari memang ramai dikunjungi orang dari berbagai wilayah. Mereka datang dengan berjalan kaki atau kendaraan. Meskipun Lewuka terletak di pegunungan, namun hampir setiap hari mereka dapat mengkonsumsi ikan karena orang-orang pantai biasa datang menjual ikan di kampung ini.

Selain ke pasar barter Wulandoni, Mama Ela sering berkeliling ke beberapa pasar tradisional lainnya untuk berdagang. Ia bahkan rela berjalan kaki menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk sampai ke pasar. Ia mengaku pernah berjalan kaki ke pasar Hadakewa dan Lewuka yang terletak jauh di pantai selatan pulau Lembata.

Ia mengaku, dua hari sebelum hari pasar tiba, enam anak ini sibuk memanen pisang, labu, pisang, padi, jagung, untuk dijual ke pasar. Selain berjalan kaki, sesekali Mama Ela menumpang angkutan umum.

“Untung sekarang sudah ada oto. Jadi, kami tidak harus jalan kaki. Tapi banyak juga warga yang masih jalan kaki,” kisahnya.

Kini, Mama Ela dan teman-temannya boleh tersenyum kembali setelah Pasar Barter Wulandoni mulai dibuka lagi. Di pasar ini mereka bisa kembali bertransaksi sambil bertukar cerira tentang suka duka kehidupan mereka di tengah terpaan pandemi virus corona yang belum dipastikan kapan berlalu.

Penulis: Benediktus Kia Assan
Editor: Kornelius Rahalaka

Artikel ini telah dibaca 335 kali

Baca Lainnya
x