Feature

Rabu, 20 Mei 2020 - 03:53 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Bupati Manggarai Dr. Kamelus Deno, S.H., M.H dan Bupati Manggarai Barat Drs. Agustinus Ch. Dula. (Foto: Ist)

Bupati Manggarai Dr. Kamelus Deno, S.H., M.H dan Bupati Manggarai Barat Drs. Agustinus Ch. Dula. (Foto: Ist)

Pesan Pendek untuk Bupati Kamelus dan Bupati Gusti Dula (1)

Beberapa hari lalu, situasi posko covid-19 di perbatasan Manggarai dan Manggarai Barat kurang kondusif. Agak tegang. Pemicunya bermula, portal jaga perbatasan wilayah ‘kakak-adik’ itu dianggap kurang representatif. Baik letak posko jaganya maupun aturan ikutannya. Akibatnya ribut gaduh di tempat itu tidak bisa dihindarkan. Bahkan untuk bela warganya, Camat Lembor, Pius Baut, dengan tegas katakan, “ini wilayah saya, bukan wilayah bapak!”.

Camat Lembor, mengeluarkan pernyataan seperti itu, di satu sisi, tentunya, bertindak atas nama dan dalam kapasitasnya sebagai pimpinan wilayah di Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat. Dan dengan itu pernyataan Camat Lembor tepat, tak terbantahkan. Sementara di sisi lain, petugas jaga portal, wajib hukumnya menegakkan aturan. Antara menegakkan aturan dan menyelamatkan warga menjadi dua sisi kenyataan yang sam-sama pentingnya.

Terkait dengan hal itu, ada dua pesan penting yang termaktub di sana. Pertama, portal jaga merupakan salah satu upaya strategi pencegahan dan pengendalian penyebaran covid-19. Karena itu setiap pelaku perjalanan harus memenuhi standar persyaratan. Namun pos jaga itu sendiri, berada di wilayah Manggarai Barat. Di sinilah ambivalennya. Menyadari hal itu, sangatlah elegan, jika Bupati Manggarai, Deno Kamelus, mengusulkan pos jaga itu jadi posko bersama.

Tetapi tawaran itu ‘agaknya, ditanggapi secara miris oleh Pemerintah Daerah Manggarai Barat. Alasannya posko tersebut telah memicu keributan sehingga, secara psikologis akan berdampak pada pelaksanaan tugas bersama. Karena itu, sikap pemerintah daerah Manggarai Barat, lebih cenderung bangun baru posko jaga di wilayah batas itu. Meski rencana tersebut masih sebatas niat dalam ‘balutan’ nada diplomatis. Sebagaimana diungkapkan Bupati Gusti Dula, “pastikan warga perbatasan aman dalam beraktivitas. Bilamana tidak aman, pemerintah bisa bangun posko jaga sendiri di situ. (floreseditorial.com, Selasa 19 Mei 2020)

Pernyataan Bupati Dula agak longgar. Tidak tegas. Nuansanya bersayap. Artinya bilamana tidak aman, maka pemerintah bisa bangun posko jaga sendiri. Kalau aman berarti tidak perlu ada pos jaga sendiri. Dalam konteks ini, dan dalam arti tertentu, kehadiran pos jaga yang telah dibangun Pemerintah Daerah Manggarai menjadi jaminannya. Meski, sebelumnya terjadi ribut, tetapi pernyataan Bupati Dula lebih perspektif ke depannya. Garansinya masyarakat harus aman dan dapat beraktivitas seperti biasanya. Di sini dapat kita pahami makna yang terkandung dari pernyataan seorang pejabat, yang mampu menempatkan kualitas dan kualifikasi pemahaman yang komprehensif. Bupati Dula paham akan hal itu.

Kedua, pos jaga yang didirikan berdasarkan pertimbangkan kepentingan menyelamatkan warga Manggarai dari virus maut pencabut nyawa itu. Untuk tujuan itulah, pos jaga perbatasan harus ada. Tetapi pos jaga itu bukan penghalang, penghambat atau sedang mendiskreditkan semua orang yang hendak masuk wilayah Manggarai. Tetapi, substansinya semata-mata pengendalian virus corona itu. Di titik ini Bupati Deno sadar betul resiko apabila longgar dalam pengawasan dan pengamannya. Jika itu yang terjadi, bukan mustahil virus corona bakal meraja lela ke mana-mana.

Kita bisa lihat, belajar dari beberapa contoh. Negara maju, misalnya, seperti Amerika Serikat, Italia, Spanyol, Inggris, hingga Prancis merupakan beberapa negara dengan dampak terparah. Penyebaran virus corona begitu ganas dan menyebalkan justru karena longgar dalam pencegahan awal. Karena pengawasan yang longgar itulah virus corona ‘mencangkok’ secara cepat dan luas terhadap warga di negara itu. Padahal kita tahu negara-negara tersebut memiliki fasilitas kesehatan yang sangat maju dan kehidupan masyarakat yang relatif lebih tertib. Tetapi apa yang terjadi. Ribuan nyawa terkulai mencium tanah. Virus corona seakan menyambar dan mencabut nyawa. Menenteng maut dan pergi tanpa ampun.

Menyadari hal itu, seraya menggarisbawahi praktek pencegahan ala negara Vietnam, Bupati Kamelus hendak menunjukkan strategi pencegahan virus corona seharusnya; agresif, cepat dan tepat. meski harus kecolongan akibat kelalaian pelaku perjalanan sendiri, Manggarai terpaksa tercoreng ditemukannya satu pasien terkonfirmasi positif-19. Tetapi, setidaknya, bentuk pencegahan yang Ia lakukan semata-mata meyelamatkan warganya agar virus maut itu tidak terlanjur mendarat di Manggarai.

Bupati Kamelus, dalam skala pencegahan dan pengendaliannya, setidaknya, mencontohi praktek ala Vietnam itu. Kita tahu Vietnam merupakan salah satu Negara Asia Tenggara yang terdampak virus corona. Padahal jarak negara yang beribukota Hanoi itu dengan Tiongkok – negara asal – muasal virus laknat itu sangatlah dekat. Tetapi lantaran bentuk pencegahannya sangat ketat, rapih dan komprehensif maka negara Vietnam dianggap berhasil kendalikan penyebaran virus corona – meski ada korban jiwa. Tetapi tidak seberapa jika disandingkan dengan korban lain di negara-negara super canggih dan modern seperti yang saya sebutkan di atas tadi.

*(bersambung/Kanis Lina Bana)

Artikel ini telah dibaca 51 kali

Baca Lainnya
x