Ekonomi Feature Wisata

Senin, 18 Mei 2020 - 05:11 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Puncak El Tari - Puarlolo, Kecamatan Mbeliling. (Foto: Robert Perkasa)

Puncak El Tari - Puarlolo, Kecamatan Mbeliling. (Foto: Robert Perkasa)

Geliat Wisata Kuliner Puncak El Tari Puarlolo Mati Suri

Floreseditorial.com, Mbeliling – Adalah Anselmus Sudirman (54), putra asli Kampung Mejer, Desa Golo Damu, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat. Meninggalkan kampung halamannya, 24 Oktober 1990, mengadu nasib ke Kota Bajawa, Kabupaten Ngada. Di kota sejuta bambu itulah, Ia bekerja sebagai karyawan PT. Telkom, kurang lebih 23 tahun Ia mengabdi BUMN itu.

Pengalaman hidup sebagai karyawan Telkom membuatnya matang. Di Telkom, Ia belajar hidup mandiri. Suka duka selama puluhan tahun di Kota Bajawa dilalui bersama istri dan anak-anaknya.

Menyadari gaji pas-pasan, Ansel, demikian sapaan akrabnya, dituntut untuk hidup hemat agar bisa bertahan hidup di Kota Bajawa. Ansel tidak menyerah pada keadaan. Di kota mungil Bajawa, Ansel bersama istrinya berjuang mencari peluang usaha tambahan selain gaji yang diterimanya dari Telkom. Mereka menekuni usaha kuliner di kota tersebut. Saat menjalani usaha kuliner inilah naluri kewirausahaannya berkembang.

Kendati begitu, kota Bajawa sepertinya bukan dermaga tujuan dia berlabuh. Dari kota Bajawa, Ia meneropong geliat kepariwisataan Labuan Bajo yang menanjak saban tahun. Ansel pun mengambil keputusan final untuk pulang kampung.

Tepatnya 23 Desember 2013, Ansel bersama keluarga kecilnya meninggalkan sejuta kenangan manis-pahit Kota Bajawa. Pulang ke Mejer, Desa Golo Damu, kampung Ia dilahirkan. Pengalaman hidup jatuh bangun selama puluhan tahun menekuni usaha kuliner di kota Bajawa menjadi obsesinya kembali ke Manggarai Barat.

Tiba di kampung halamannya, Ansel menata kehidupan keluarganya dari titik nol. Memang tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan suasana kampung. Namun etos kerja warga di kampung sangat kontras dengan potensi kewirausahaan dalam dirinya. Itu sebabnya Ia tidak betah hidup di Kampung Mejer. Ansel turun ke kota Labuan Bajo. Tiba di kota ini, Ia dan keluarganya tinggal di rumah kontrakan di kawasan Senaru, Desa Wae Kelambu.

“Hari pertama saya tinggal di Labuan Bajo, saya belajar tentang aktivitas warga kota Labuan Bajo dari pagi hingga malam hari. Kesan saya di hari pertama adalah aktivitas warga kota Labuan Bajo sangat berbeda dengan pengalaman saya selama puluhan tahun hidup di kota Bajawa”, bandingnya.

Di Labuan Bajo, kisah Ansel, aktivitas warga kota berjalan selama 24 jam. Siang dan malam hampir sama. Rotasi peredaran rupiah bergulir cepat. Tahun 2013 di kota Labuan Bajo, usaha kuliner belum seramai sekarang. Warung makan rata-rata ditutup pada pukul 22.00 WITA.

“Pertanyaan saya, dari jam 10 malam sampai pagi, warga kota yang masih lalu-lalang ini beli makan dan minum di mana? Inilah peluang yang saya dapati pada minggu pertama saya tinggal di kota Labuan Bajo”, kisah Ansel.

Dari “studi lapangan” itu, Ansel dan istrinya mulai berkiprah membangun usaha kuliner 24 jam di kawasan Cowang Dereng. Ansel memilih kawasan ruko milik Pemkab Manggarai Barat. Tepatnya di samping SPM Labuan Bajo.

Kawasan tersebut dinilainya sangat strategis untuk membuka usaha kuliner. Sambil berkoordinasi dengan Pemkab Manggarai Barat, Ia memohon izin buka usaha di kawasan tersebut. Setelah deal, Ansel bersama istrinya merintis usaha kuliner di kawasan itu dari nol. Ansel bersama sang istri mengawali usahanya dengan membuka warung kopi dan beraneka gorengan.

“Saya ingat baik, hari pertama kami menjual pisang goreng di tempat itu, hasilnya Rp 17.000 dari pagi hingga petang. Sambil menjual pisang goreng, kami juga menjual nasi ikan goreng dan ikan kuah untuk memenuhi permintaan pengunjung”, tutur Ansel melanjutkan kisah inspiratif ini ketika berbincang ria di puncak El Tari kawasan Puarlolo, Jalan Trans Flores belum lama ini.

Dikisahkan, usahanya yang semula menjual pisang goreng, kini berkembang pesat. Ramainya pengunjung di area itu membuat Ia dan istrinya kewalahan melayani orderan. Ansel pun berani menggaji tujuh karyawan untuk membantunya. Selain usaha gorengan dan nasi ikan, Ia juga menyiapkan makanan khusus daging RW. Ansel memberi gaji karyawannya sebesar Rp 700.000/bulan/per orang.

Menatap Puncak El Tari – Puarlolo

Berpacu dengan geliat pariwisata Labuan Bajo, Ansel melihat hal itu sebagai sebuah peluang baru. Ada kecenderungan para wisatawan baik mancanegara maupun domestik yang suka melancong ke wilayah pegunungan. Mereka ingin menikmati panorama alam pegunungan sekitar kota Labuan Bajo. Antara lain destinasi wisata air terjun Cunca Rami, Cunca Lolos, Cunca Wulang, Danau Sano Nggoang dan bentangan alam Puarlolo yang khas dengan suhu dingin dan alami.

Membaca peluang tersebut, Ansel kini sedang menyiapkan amunisi melebarkan sayap usahanya di desa kelahirannya, Golo Damu, Kecamatan Mbeliling. Tempat yang tepat untuk itu adalah kawasan Puncak El Tari – Puarlolo. Ansel ingin menumpahkan segala potensi dan talenta yang dimilikinya di Puncak Puarlolo. Rencananya, Ia membuka usaha kuliner di puncak tersebut.

“Saya memilih tempat ini karena strategis dan menjanjikan. Misi saya ke tempat ini juga ingin berkontribusi membangun desa saya. Saya segera buka usaha kuliner di sini. Harapan saya, keluarga saya di Desa Golo Damu dapat mengikuti jejak saya. Mereka tidak lekas percaya kalau saya ajak mereka dengan omong-omong. Saya yakinkan mereka dengan aksi nyata,” ujar Ansel optimis.

Ia pun berharap, dengan memulai usaha kuliner di tempat itu, kiranya dapat membuka wawasan mereka dan dapat mengubah pola pikir mereka.

“Jangan gengsi. Tempat ini sangat strategis. Manfaatkan puncak ini untuk usaha positif dan bermanfaat untuk keluarga,” imbaunya.

Belum lama ini, Ansel mulai mendirikan tenda terbuat dari bambu untuk warung RW. Sejumlah warga setempat juga mulai giat membangun tenda yang terbuat dari bambu.

Ditemui di Puncak El Tari, Kepala Desa Golo Damu, Stefanus Densi berkomitmen untuk menggerakkan warganya membuka usaha kuliner di puncak tersebut.

“Saya telah mengukuhkan Kelompok Tani El Tari untuk membuka usaha di sini,” ujar Kades Stefanus.

Ansel Sudirman bersama Pemerintah Desa Golo Damu di Puncak El Tari – Puarlolo. (Foto: Robert Perkasa)

Sementara itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat baru-baru ini membangun rest area puncak El Tari senilai Rp 887 juta lebih dikerjakan oleh kontraktor CV. Sinar Kakor yaitu area parkir, toilet dan pengadaan air minum. Namun hingga saat ini belum dimanfaatkan.

Sebelumnya, LSM Burung Indonesia juga telah merancang desain tata ruang kawasan puncak El Tari – Puarlolo.

Pantauan floreseditorial.com, sudah ada tiga warung yang dibuka di kawasan tersebut. Di pintu masuk sebelah timur, terdapat warung bakso dan warung kopi milik Viktor Adan. Di pintu masuk sebelah barat, juga sudah ada warung kopi milik Servas.

Dijepit virus corona

Rencana Ansel Sudirman dkk dan penataan puncak El Tari – Puarlolo oleh Pemerintah Desa Golo Damu dan Dinas Pariwisata Mabar tampaknya mati suri terpapar wabah virus corona yang kian merebak.

Sejak virus maut ini mengintai hingga hari ini, suasana di puncak itu tampak sepih. Semak belukar tumbuh liar. Arus kunjungan wisatawan pun menurun drastis. Rest area yang telah dibangun tidak terawat. Warung kopi dan bakso juga sepi pengunjung.

*(Robert Perkasa)

Artikel ini telah dibaca 199 kali

Baca Lainnya
x