Ekonomi Feature Sosial

Senin, 18 Mei 2020 - 07:51 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Ibu Wilhelmina Sete. (Foto: Nardy Jaya)

Ibu Wilhelmina Sete. (Foto: Nardy Jaya)

Derita Panjang Ibu Wilhelmina, Bantuan Tak Kunjung Dapat Juga

Floreseditorial.com, Kota Komba, – Hidup memang sebuah misteri. Kadang penuh kebahagiaan, kadang penuh tantangan. Ibarat roda berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Kita dituntut untuk mampu mempelajarinya hingga bisa mencapai tujuan yang diimpikan. Menanggapi cita-cita atau membangun rumah tangga yang bahagia merupakan tujuan utama bagi semua orang.

Namun kebahagiaan yang didambakan semua orang itu, rupanya sia-sia bagi keluarga Afridus Ndau dan Wihelmina Sete. Pasangan suami istri ini berasal dari Kakang, Desa Pong Ruan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Floreseditorial.com sempat mampir ke kediamannya, di rumah panggung, berdinding papan, tepatnya di RT 002 Leda, Desa Pong Ruan itu, Jumat (15/5/2020).

Tampak wanita tua itu hanya berbaring lemas di kamar tidur. Tangannya gemetar. Ia ditemani sang suami yang juga mengalami gangguan pendengaran.

Nasib mereka tampaknya tak beruntung. Wihelmina, mengalami stroke 18 tahun silam. Berbaring di kamar tidur jadi takdirnya. Sementara Afridus, sang suaminya, kondisinya mulai rapuh. Sudah lama pula tidak bisa bekerja di sawah dan berkebun seperti petani pada umumnya.

Kedatangan Floreseditorial.com beberapa hari lalu disambutnya dengan senyum tulus. Terdengar suara terputus-putus. Bisikannya lirih singkat. Kepada putranya, Wihelmina, bertanya tentang maksud kedatangan Floreseditorial.com. “Apa menjemput saya?” demikian Wihelmina bertanya kepada anaknya.

Mengapa demikian? Wilhelmina ingat masa pengalamannya. Pengalaman setiap hajatan pemilu legislatif atau pemilu kepala daerah. Di saat itu biasanya selalu ada yang jemput Wilhelmina untuk memberikan suara di TPS. “Bukan mama, mereka ini wartawan,” demikian sang anak memberi penjelasan bagi mamanya yang terbaring lesu itu.

Tidak Pernah dapat Bantuan Pemerintah

Sudah 18 tahun Wilhelmina bergulat dengan sakitnya. Derita panjang akibat stroke telah melenyapkan impian-impiannya sebagai sorang ibu. Penderitaanya itu semakin berat karena sang suami tidak bisa beraktivitas sebagaimana layaknya. Tambah lagi pendengarnya sudah terganggu.

“Keluarga kami tidak pernah dapat bantuan, baik PKH, Rastra, PIP dan bantuan lainya. Padahal KTP dan Kartu KK sebagai syarat utama, sudah kami lengkapi,” ucap Wihelmina sambil sesekali mengusap air matanya.

Ibu lima anak itu menuturkan untuk bertahan hidup sehari-hari, keluarganya hanya bergantung pada upah harian anak-anaknya. Meski ada beberapa pohon coklat di pekarangan rumahnya, namun panennya tidak seberapa. Karena itu, Wihelmina, berharap Pemerintah Daerah Manggarai Timur dapat memperhatikan nasib keluarganya.

Menanggapi keluhan itu, Kepala Desa Pong Ruan, Donsasianus Tasman Lewagan, mengaku sudah mengetahui keberadaan keluarga Afridus Ndau dan Wihelmina Sete. Namun dirinya membantah jika ada informasi keluarga tersebut tidak mendapatkan bantuan pemerintah.

“Afridus Ndau itu sudah terdaftar penerima BLT Rp 600.000, berturut-turut selama tiga bulan. Datanya sedang divalidasi dan tunggu pencairan,” kata Donsasianus sambil menambahkan semua warga yang belum terdaftar dalam program bantuan sosial seperti PKH dan BPNT dipastikan dapat BLT dari Kemensos RI.

Penulis: Nardi Jaya
Editor: Kanis Lina Bana

Artikel ini telah dibaca 121 kali

Baca Lainnya
x