Feature

Sabtu, 16 Mei 2020 - 07:57 WIB

3 minggu yang lalu

logo

Eksistensi Kampung Dikukuhkan dengan Ritual Paki Kabha (2)

Jejak Kampung Lengko Lolok, Desa Satar Punda, Kecamatan Laba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, mendapat legitimasi secara adat, tanggal 24 Juli 1953. Saat itu, digelar adat untuk menandai Lengko Lolok sebagi “beo rame”. Ritual adat peresmian kampung itu diujudkan dalam prosesi sembelih hewan kurban berupa satu ekor kerbau. Ritus paki kabha itu dinamakan wecek cocok. Intensi utama ritus paki kabha wecek cocok serentak mendapat pengakuan dan pengukuhan terhadap kampung, sekaligus mendapat tambor. Dengan prosesi adat wecek cocok itu juga, warga Lengko Lolok berhak merayakan pentas tarian caci.

Tiga tahun kemudian, pasca ritual wecek cocok, tepatnya 12 November 1956, diadakan acara sembelih kerbau atau dalam bahasa adat setempat paki kaba wete wase agu poka haju. Inti ritual adat ini adalah untuk memohon restu dan perlindungan leluhur saat mulai kegiatan membuka kebun baru. Menyusul acara itu, tanggal 13 Juli 1957 diadakan acara paki kaba tegi woja agu latung. Ritual ini bertujuan untuk memohon berkat bagi kesuburan tanah, agar mendapat hasil panenan padi dan jagung yang berlimpah.

Setahun kemudian, tepatnya tanggal 25 Juli 1958, diadakan acara paki kaba di Beo Mberong, untuk memohon kesuburan bagi lahan tanah yang sudah dibagi kepada setiap warga kampung. Selanjutnya, tanggal 9 Juli 1961 diadakan acara paki kaba tegi wae tiku, bertujuan untuk memohon diberikan air minum bagi kampung Lengko Lolok.

Selanjutnya, tanggal 1 November 1963 diadakan acara paki kaba buka gendang. Ritual ini menunjukkan bahwa Kampung Lengko Lolok memiliki kewenangan atau secara resmi berhak menyandang predikat memiliki gendang sendiri (beo rame). Gendang diberikan oleh kampung asal, yakni Ngendeng. Pada saat acara buka gendang tersebut, semula hanya tujuh klen. Tetapi dengan digelarnya prosesi itu, maka klen yang ada di Lengko Lolok menjadi delapan klen yang mendiami kampung itu. Klen atau kilo yang dimaksudkan yaitu; pertama, Kilo Lantar, warganya adalah Petrus Delo, Agustinus Maga, Yosep Nemo, Titus Tober, D. Ntahur, dan Lopo Uju. Kedua, Kilo Welek, warganya adalah Paulus Dani, Paulus Gaus, dan S. Netas. Ketiga, Kilo Lamba, warganya adalah Andreas Lada. Keempat, Kilo Reca, warganya adalah Yohanes Jandu. Kelima, Kilo Sumba, warganya adalah Petrus Jama. Keenam, Kilo Wudi Wajang, warganya adalah Yohanes Baas. Ketujuh, Kilo Ketang, warganya adalah Lukas Mboat. Kedelapan, Kilo Nawang Wuni, warganya adalah R. Nggaung.

Prosesi adat paki kabha buka gendang baru, tanggal 1 November 1963 dihadiri para tua adat dari kampung Luwuk; pertama dari Kilo Lopo Kantor diwakili Raymundus Ronta, Markus Namok, dan Bernadus Ganda. Kedua dari Cepang diwakili Lopo Ngero. Ketiga dari Rihut diwakili Lopo Nabi. Keempat dari Wae Rambung diwakili Lopo Pangkang. Kelima dari Rana Masa diwakili Lopo Edar. Keenam dari Nempong diwakili Lopo Sember dan Lopo Jerek. Ketujuh dari Hedok diwakili Lopo Joma. Kedelapan dari Wae Ruek diwakili Lopo Ganur. Kesembilan dari Larok diwakili Lopo Ganggus. Kesepuluh dari Kodo, diwakili Lopo Hasa. Kesebelas dari Rujung diwakili Lopo Ndasak. keduabelas dari Kilo Nawang diwakili oleh Herman Bocok dan Andreas Ande.

Tahapan-tahapan prosesi adat sembelih kerbau sebagai hewan kurban, mempresentasekan keabsahan Kampung Lengko Lolok dan eksistensinya. Mereka memulai semuanya dalam tatanan adat sesuai budaya yang terwariskan di Manggarai. Dalam keseluruhan entitas itulah, Lengko Lelok menenun dan mewariskan peradaban yang kuat dan lestari.

Kampung Lengko Lolok. (Foto: Kanis Lina Bana)

Tolak Relokasi

Sudah sekian tahun warga setempat hidup dan berkembang di Kampung Lengko Lolok. Mereka ada untuk menunjukkan eksistensinya, eksistensi yang selalu ditempatkan dalam kesadaran moral etik dan adat-istiadatnya. Namun belakangan ini, kenyamanan warga kampung itu mulai terusik. Mereka terganggu sejak rencana pabrik semen Luwuk diwacanakan, sebab pabrik semen itu akan berdampak bagi warga Lengko Lolok. Kepada mereka ditawarkan untuk direlokasi, namun tawaran itu ditolak warga setempat. Alasannya, jika menyetujui relokasi berarti identik mengkhianati leluhur dan nilai-nilai sejarah adat Manggarai.

Sikap menolak relokasi dinyatakan setelah warga Lengko Lolok menggelar pertemuan internal. Mereka menyimpulkan bahwa relokasi merupakan kejahatan terhadap leluhur pendiri kampung itu. Karena itu, mereka tetap pada pendiriannya, menolak relokasi, atau sekali tolak relokasi tetap tolak.

“Kalau kami ‘jual’ beo (kampung), compang dan gendang kepada perusahaan tambang, itu artinya kami ini identik keturunan terkutuk yang tidak menghormati leluhur dan tidak memahami adat Manggarai,” tutur Markus Meno, salah seorang tokoh masyarakat Lengko Lolok.

Alasan lain menolak relokasi, demikian Markus, roh leluhur pendiri dan penghuni Kampung Lengko Lolok, Petrus Delo mendatangi warga Kilo Lantar. Dalam mimpi, para leluhur itu mendatangi mereka dan duduk melingkar di atas compang. Dengan wajah marah, demikian Markus, para leluhur menunjuk satu per satu rumah dan orang yang setuju relokasi atau menjual kampung-kampung Lolok ke perusahaan tambang.

Eme pika beo hook agu ise ata tambang, meu ata pertama lami emi, poli hituk ata cebana (Kalau kamu jual kampung ini ke perusahaan tambang, kamu yang pertama kami ambil nyawanya, setelah itu baru orang lain, red),” tutur Markus Meno.

Sikap menolak relokasi semakin kuat lantaran relokasi kampung tidak pernah dibahas. Klausul relokasi, justru diketahui setelah membaca memori of understanding (MoU) yang dibuat sepihak oleh perusahaan tambang. Karena itu, setelah membaca draft MoU dan dipertegas dalam rapat bersama, maka warga Lengko Lolok sepakat menolak keras rencana relokasi.

*Habis
Penulis: Kanis Lina Bana

Artikel ini telah dibaca 436 kali

Baca Lainnya
x