Feature

Jumat, 15 Mei 2020 - 13:08 WIB

3 minggu yang lalu

logo

Kampung Lengko Lolok. (Foto: Kanis Lina Bana)

Kampung Lengko Lolok. (Foto: Kanis Lina Bana)

Mengendus Jejak Kampung Lengko Lolok (1)

Ada sebuah pepatah Latin, pepatah yang sudah cukup lama dikenal. Pepatah ini, sepertinya memiliki daya magisnya tersendiri. Soalnya, jika berurusan dengan nama, jejak atau semacamnya, pepatah ini selalu dikutip. Demikian pepatanya, “Nomen Est Omen” yang berarti “nama adalah tanda”. Tanda yang mempresentasikan makna, pesan dibaliknya.

Demikian, ketika kita mengusut jejak Lengko Lolok atau Kampung Lolok. Kampung ini sudah cukup lama ada dan berkembang. Penduduknya ramah-ramah, santun penuh persaudaraan serta nuansa kekeluargaan terpelihara dengan baik. Toleransi antar sesama warga tidak diragukan lagi. Pokoknya entitas warga kampung dengan segala pesonanya, mencerminkan keadaban yang terwariskan. Orang-orangnya sederhana, baik budinya.

Beberapa kesempatan, saya mampir di kampung itu. Entah untuk kepentingan liputan, maupun sekadar berhenti sejenak hela napas ketika lelah dalam perjalanan menuju Dampek atau Pota. Itu sebabnya, kampung itu jadi akrab di gendang telinga saya. Lebih akrab lagi ketika ada liputan pertambangan di Serise dan Lengko Lolok beberapa tahun lalu.

Belakangan ini Lengko Lolok jadi “buah bibir” lagi. Sejak Pemerintah Daerah (Pemda) Manggarai Timur ancang-ancang bangun pabrik semen. Calon lokasi pabriknya di Luwuk. Tetapi Luwuk saja tidak cukup. Soalnya batu gamping dan material utama untuk produksi semen ada di Lengko Lolok. Jadi, Luwuk dan Lengko Lolok ibarat dua kepingan mata uang, tak terpisahkan.

Wacana pabrik semen di Luwuk itu, menimbulkan pro kontra. Warga Lengko Lolok sendiri menolak jika mereka harus tinggalkan kampung itu hanya karena mau memuluskan rencana pabrik semen. Mereka menolak karena alasan rasional. Keteduhan akhlak adat-istiadat yang beradab. Karena sesungguhnya, tentang kampung tidak hanya sebatas lokus tempat tinggal, tempat beraktivitas untuk kehidupan, tetapi lebih jauh itu menarasikan seluruh entitas dan eksistensinya.

Kisah bertumbuhnya Kampung Lengko Lolok, disampaikan Gusti Lesek. Berdasarkan tuturan dua orang tokoh, Aleksius Jami dan Bonefasius Uden, jurnalis yang energik, potensial, dan calon pemimpin masa depan menuturkannya. Sebab anak tanah kampung itu, sudah lama mengusut kisah ‘rahim’ kampung asalnya. Meski mengais nasib di Jakarta, tanah asalnya selalu memanggil dan mengetuk-ngetuk pendar jiwanya.

Kepada floreseditorial.com, Jumat (15/5/2020), Gusti Lesek berkisah, Lengko Lolok menjadi lokasi pemukiman baru berawal dari jelajah dan petualangan, Lopo Kantor dan kawan-kawannya. Meninggalkan Rihut dan mendaratkan langkah di Luwuk. Kabar rombongan Lopo Kantor sudah tiba di kampung itu tersiar ke warga lain. Berita yang disebarwartakan dari mulut ke mulut itu demikian isinya, “wa Luwuk ise ema de Picak ga!,” demikian kabar tersiar. Luwuk adalah lokasi pendaratan Lopo Kantor. Sementara sebutan Ema de Picak, sangat boleh jadi sapaan untuk Lopo Kantor, karena anak sulungnya bernama Picak. Dan sapan itu umumnya cukup human bagi masyarakat Manggarai Raya.

Namun warta tersebut membuat Petrus Delo, seorang warga lain dari Rihut juga, kaget dan merasa kecolongan. Sebab jauh sebelumnya Petrus Delo atau Lopo Delo sendiri sudah punya ancang-ancang mengais nasib, menenun kehidupan baru di tepi pantai. Targetnya wilayah pesisir pantai, dan Luwuk termasuk lokasi targetnya.

Karena itu, Lopo Delo menghimpun sejumlah orang, terutama golongan muda. Dua minggu kemudian, Lopo Delo bersama orang muda menyusul Lopo Kantor ke Luwuk. Persis tanggal 17 Mei 1950, Lopo Delo tiba di Luwuk. Namun setelah berada di Luwuk, Lopo Delo berubah pikiran. Sebab Lopo Kantor sudah ada di Luwuk. Karena itu, Lopo Delo memutuskan untuk memilih lokasi baru. Lengko Lolok jadi pilihannya.

Lengko Lolok merupakan dataran tinggi yang cukup luas. Terletak di Desa Satar Punda, sebelah utara berbatasan dengan Luwuk. Rombongan Lopo Delo yang terdiri dari, Mikael Dodo, Lopo Uju, Agustinus Maga, Damianus Kapu, Paulus Dani, dan Paulus Gaus mendaratkan langkah di Lengko Lolok. Boleh dikatakan, klaster perdana asal Rihut yang menempati Lengko Lolok adalah Lopo Delo dan kawan-kawan. Klaster Rihut Lopo Delo diikuti klaster kedua yang menyusul ke Lengko Lolok yakni, Yohanes Baas, Andreas Lada, Yohanes Jandu, Lukas Mboat, Titus Tober, dan Petrus Jama.

Jadi Lopo Delo merupakan warga asal Rihut yang pertama menempati Kampung Lengko Lolok. Menyusul rombongan Yohanes Baas. Sedangkan Lopo Kantor merupakan klaster pertama asal Rihut yang mendiami Luwuk.

Ada beberapa kesepakatan bersama yang dihasilkan rombongan klaster satu dan dua asal Rihut yang sudah menempati Lengko Lolok. Yakni, menentukan lokasi pemukiman dan lahan berkebun. Lopo Delo berkebun di Lingko Satar Tana, sebelah barat Kampung Lengko Lolok. Lopo Delo juga didaulat menjadi Tua Teno Lengko Lolok. Sebab sebagai klen mayoritas Lantar yang memiliki hak adat Tua Teno.

Awal mula Kampung Lengko Lolok bertumbuh, ada tujuh klen yang mendiami kampung tersebut. yaitu, Kilo Lantar dengan anggota Petrus Delo (Lopo Delo), Agustinus Maga, Mikael Dodo, Lopo Uju, Damianus Kapu, dan Titus Tober. Kedua, Kilo Welek terdiri dari Paulus Dani dan Paulus Gaus. Ketiga, Kilo Reca, Yohanes Jandu. Keempat, Kilo Lamba, Andreas Lada. Kelima, Kilo Wudi Wajang, Yohanes Baas. keenam, Kilo Ketang, Lukas Mboat. Ketujuh, Kilo Sumba, Petrus Jama.

*(bersambung)
Penulis: Kanis Lina Bana

Artikel ini telah dibaca 95 kali

Baca Lainnya
x