Feature Sosial

Kamis, 14 Mei 2020 - 07:32 WIB

3 minggu yang lalu

logo

Andreas Suri Arsi (45) Tukang Bangunan berasal dari Desa Wae Lolos, Kec Sano Nggoang. (Foto: Robert Perkasa)

Andreas Suri Arsi (45) Tukang Bangunan berasal dari Desa Wae Lolos, Kec Sano Nggoang. (Foto: Robert Perkasa)

Ketika Rantai Gergaji “Tersandung” Virus Corona

Floreseditorial.com Sano Nggoang – Sejak pandemi virus corona menghebohkan jagat dunia, Andreas Suri Arsi (45), warga Desa Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang bangunan ini hanya bisa berdiam diri di rumahnya yang sederhana di Kampung Langgo, sekitar 30 km dari kota Labuan Bajo.

Sebelum wabah itu santer terdengar, sehari-hari Ia bekerja seperti biasa, menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai tukang kayu. Ia juga memiliki mesin gergaji untuk memotong kayu. Hampir setiap hari mesinnya selalu menderu, pertanda rupiah mengalir. Asap dapur pun sudah pasti tetap mengepul. Segala urusan keluarga lancar-lancar pula. Namun kini, rantai mesin gergaji tidak lagi berputar. “Rantai gergaji saya sudah “terbelit” virus corona. Saya hanya bisa pasrah. Saya berharap, badai virus laknat ini segera berlalu,” ujarnya.

Om Arsi, demikian Ia biasa disapa sehari-hari, menekuni dunia pertukangan. Profesi sebagai tukang batu dan kayu sudah Ia geluti sejak duduk di bangku SMP atau sejak 26 tahun silam. Separuh usianya Ia habiskan di dunia pertukangan. Bapak tiga anak ini adalah seorang pekerja keras. Setiap hari hampir seluruh tubuhnya belepotan serbuk kayu, campuran semen atau oli kotor.

Arsi mengaku Ia bukan tamatan perguruan tinggi atau setingkatnya. Ia hanya menempuh pendidikan formal sampai di bangku SLTP saja. Namun demikian, karya-karyanya tak lagi terhitung jumlahnya. Ia mampu mengerjakan apa saja mulai dari fasilitas perabot rumah tangga, bangunan rumah tinggal dari kayu hingga bangunan gedung bertembok beton berlantai tingkat. Alumni SMP Katolik Mutiara Rekas tahun 1994 ini mengisahkan, pengalaman pertukangan Ia pelajari secara otodidak dari beberapa orang tua dan rekan sejawatnya.

“Saya tidak memiliki sedikitpun ilmu bangunan apalagi arsitektur. Mungkin bakat saya dalam dunia pertukangan terbawa sejak kecil,” kisah Arsi yang juga menjabat sebagai Ketua Komunitas Basis Gerejani (KBG) di stasinya. Ia mengaku kerap kali dicemooh oleh orang, tetapi semua cemoohan atau kritikan tersebut Ia jadikan sebagai cambuk yang memacu dirinya untuk semakin matang dalam berkarya dan kepribadiannya.

Suami dari Maria Fransiska Fiani ini terlahir sebagai anak sulung dari lima bersaudara. Buah cinta dari pasangan suami-istri (Pasutri) Matius Jemuan (alm) dan Lusia Lanus (alm). Ia mengaku bahwa sebagai anak sulung dalam keluarga, Ia mempunyai tanggung jawab yang besar untuk keluarga dan adik-adiknya.

Ketika ditanya tentang sekolah, Ia mengaku sebenarnya ada niat untuk melanjutkan sekolah setelah menamatkan sekolah pertama (SMP), namun kondisi ekonomi orang tuanya yang tidak memungkinkan sehingga Ia terpaksa mencari kerja sebagai tukang. Ia memulai karirnya dengan menggunakan peralatan pertukangan seadanya. Ia mulai mengerjakan perabot rumah tangga seperti meja, kursi, lemari dan tempat tidur.


Pada tahun 2001, Ia melepaskan masa lajangnya dengan menikahi Maria Fransiska Fiani. Mereka dikaruniai tiga orang anak. Setelah menikah, Ia membangun rumah bagi keluarga kecilnya, rumah kayu berukuran 3,5 m x 6 m. “Itu rumah pertama yang saya kerjakan,” kata Arsi seraya menunjuk rumahnya. Empat tahun kemudian, persisnya tahun 2005, Ia membangun sebuah rumah semi permanen ukuran 6 x 6 m. Saat itu Ia mulai menggeluti dunia pertukangan, baik tukang kayu maupun tukang batu hingga sekarang.

Mesin Press Kayu milik Arsi. (Foto: Robert Perkasa)

Sejak itu, Ia sering diminta untuk membangun rumah atau gedung. Bakatnya terus diasah. Tahun 2007, Ia bersama teman-teman tukang se-kampung dipercaya membangun rumah adat di kampungnya Langgo. Sejak itu, Ia mulai belajar mengenal dan menggunakan peralatan tukang modern, seperti mesin skap, mesin profil, bor dan lain-lain. Hasil kerja tangannya mendapat sambutan warga. Kini, di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih Ia mulai memanfaatkan peralatan tukang modern. “Saat ini, saya beli skap, mesin profil, mesin gerinda, mesin bor,” tutur Arsi.

Pengalaman sebagai tukang Ia lakoni hingga kini. Ia memulainya dari menggunakan peralatan yang tradisional atau manual hingga kini Ia bisa menggunakan peralatan tukang yang serba modern. Banyak order pesanan mulai berdatangan. Ia mengaku beberapa wilayah telah Ia jelajahi untuk membangun beberapa unit rumah seperti di Mbuhung, Desa Tiwu Nampar dan di Kecamatan Boleng. Ia juga di percaya oleh manajemen Telkomsel untuk pembangunan tower Telkomsel di wilayah Langgo, dan membangun beberapa ruang kelas seperti SMPN 2 Mbeliling dan mengelola proyek PPK, PPIP dan beberapa proyek lainnya di desa seperti proyek Pansimas.

Berbekal pengalaman dan memiliki modal yang cukup pada tahun 2017, Ia membeli mesin press kayu seharga Rp17 juta. Dengan fasilitas tersebut Ia lebih mudah melakukan pekerjaannya sebagai seorang tukang profesional. “Mesin ini sangat membantu saya, pekerjaan saya menjadi lebih mudah,” tutur Arsi. Kini, Arsi bersama teman-teman sekampungnya sedang membangun Gereja Langgo berukuran 12 x 28 m. Gedung gereja sudah dibangun sejak April 2018 lalu.

Bapak Arsi dikaruniai tiga orang anak laki-laki. Masing-masing, Frederikus Arsifiani Retno, lahir 21 Juli 2002, siswa Kelas I SMKN 2 Tana Dereng. Heribertus Edwin Waha, lahir 16 Juli 2004, siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Mbeliling dan Wolfardus Alfretur Arsifianiwin, lahir 13 Februari 2017. Kedua anaknya, Retno dan Edwin memiliki catatan prestasi mumpuni sejak di SDK Roe. Tropi juara kelas menjadi langganan kedua putranya itu, khususnya di bidang matematika. Beberapa kali mengikuti kompetisi untuk bidang studi matematika. Edwin misalnya, pernah menjadi Juara I Lomba mata pelajaran matematika tingkat Sekolah Dasar Gugus Puncak Eltari Tahun Pelajaran 2016/2017 yang digelar oleh Pemkab Mabar, Dinas PPO UPTD PPO Kecamatan Mbeliling.

Sayang, kini aktivitas pertukangan nyaris terhenti total akibat pandemi corona. Sejak Maret 2020, mesin press/gergaji miliknya tidak lagi beroperasi, tali fambelnya berhenti berputar, rantai mesinnya terpaksa ‘tersandung’ virus laknat corona. Pesanan pelanggan pun kian sepi bahkan tidak ada sama sekali. Pendapatan pun menurun drastis, bahkan tidak ada sama sekali. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Ia hanya mengandalkan hasil kebun. Di sudut rumahnya yang sederhana namun asri, bapak Arsi berharap pandemi corona cepat berlalu.

Penulis: Robert Perkasa

Artikel ini telah dibaca 272 kali

Baca Lainnya
x