Pendidikan

Jumat, 6 Desember 2019 - 02:43 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Mengenang SDK Cereng

“Catatan Siswa Nakal Seputar Taman Belajar Tentang Abjad, Nilai dan Makna Kehidupan “

*Oleh: Syamsudin Kadir

Namaku Syamsudin Kadir, kerap disapa Kadir. Aku kelahiran 8 Agustus 1983 di Kampung yang paling “cikot” di Manggarai Barat, Kampung Cereng. Aku merupakan anak ke 4 dari 9 bersaudara: Ahmad Kahir (1977), Siti Marwia (1979), Siti Mardia (1981), Siti Murti (1985), Siti Nurfi Isya (1987), Siti Nurfa Jamila (1990), Rafiq Jumalik (1992), dan yang bungsu Siti Harmiyati (1994).

Nama ayahku Abdul Tahami (1949), Kepala Desa pertama Desa Golo Sengang. Nama ibuku Siti Jemami (1959) seorang ibu rumah tangga. Keduanya adalah orang paling berjasa dalam kehidupanku. Semua jasanya tak kan mampu aku balas. Selamanya. Biarkan Allah ywng membalas semuanya. Sungguh, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Bagiku, ayah dan ibu adalah dua orang hebat yang mempengaruhi sepak terjangku dalam membangun karir dan kesuksesan. Keduanyalah yang mendidik dan membimbingku tentang makna kehidupan dan banyak hal, termasuk nilai-nilai mulia.

Ya tentang kesungguhan, pengorbanan, ketulusan, optimisme, semangat, kedisiplinan, kerja keras, kerja cerdas, tanggungjawab, kejujuran, kepedulian, tenggang rasa, toleransi, kebersamaan, kesantunan dan masih banyak lagi, termasuk cinta.

Kakek-nenekku dari jalur ayah (Pua) namanya Jatong dan Siti Seria. Kakek-nenekku dari jalur ibu (Ine) namanya Ngempo dan Timur. Aku banyak mendapatkan hikmah berharga dari mereka. Mereka adalah tokoh berpengaruh pada zamannya.

Aku sendiri merupakan siswa SDK Cereng tahun 1990-1996. Walau tergolong siswa yang “nakal” dan “susah diatur”, aku termasuk yang suka baca dan tulis. Tulisanku tergolong rapih. Saingan dengan tulisan guruku, terutama Pak Martinus Tjama dan Pak Pius Sarto.

Karena rajin baca dan tulis, aku masih ingat betul, sejak kelas 1 hingga kelas 6 SD aku selalu juara kelas dan 3 kali juara umum se-SDK Cereng. Sebagai buktinya, raport SD masih aku simpan hingga saat ini.

Di saat SD, aku dan teman-temanku sering mengikuti Lomba Cerdas Cermat dan Lomba Bidang Studi tingkat Gugus dan Kecamatan. Termasuk mengikuti berbagai jenis pertandingan di Werang, yang saat itu masih ibukota Perwakilan Kecamatan Komodo, seperti sepak bola dan takraw.

Untuk Lomba Cerdas Cermat, aku ditemani oleh dua diantara teman baikku: Abdul Mantap dan Syafarudin Jemadil. Kami diutus ke Labuan Bajo setelah mengalahkan SDK Naga dan SDK Paku. Kami diutus atas nama Gugus atau kelompok sekolah.

Hebatnya, kami dari SDK Cereng menuju Labuan Bajo menggunakan transportasi istimewa: jalan kaki. Karena jarak yang cukup jauh, waktu yang dibutuhkan tuk menempuh pun lumayan banyak juga. Tapi itu tak membuat semangat kami tuk berkompetisi surut. Malah inilah kelak yang membuat kami siap berkompetisi di medan ilmu.

Di Labuan Bajo kami berhadapan dengan siswa jagoan dari SDN 1 dan SDN 2 Labuan Bajo. Walau tak mendapat juara pertama, aku masih ingat selisih nilai groupku atau delegasi Gugusku tak terlampau jauh dengan nilai group delegasi Gugus lain. Hanya selisih beberapa saja. Tak sampai belasan. Serunya di sini.

Seingatku, bangunan sekolahku di zaman itu sangat jauh dari kelayakan. Ruangan yang terpakai hanya 3 kelas ditambah ruang guru. Itu pun atapnya sangat jauh dari harapan. Di saat hujan, aku dan siswa lain hanya menepi dekat dinding sekolah sembari bernyanyi lagu-lagu daerah dan nasional.

Teman seangkatanku, diantaranya, seingat aku: Abdul Mantap, Syafarudin Jemadil, Muhammad Nurdin, Theodurus Widiantono, Agustinus Man, Yosep Harapan. Lalu Rin, Siti Aminah Uni, Siti Murni, Del, Siti Erna, Siti Semina, Nikmat.

Teman seangkatanku rerata sukses membangun karir sesuai dengan minat dan potensinya. Ada yang mengajar, berbisnis, tukang bangunan, berdagang, menjadi ibu rumah tangga, menulis dan sebagainya.

Semua Guruku adalah orang yang berjasa dalam perjalanan pendidikanku. Sebab merekalah yang mengenalkanku abjad dan kata-kata. Mereka jualah yang mengajarkanku kalimat dan makna-makna, termasuk nilai-nilai.

Ya tentang kesungguhan, pengorbanan, ketulusan, optimisme, semangat, kedisiplinan, kerja keras, kerja cerdas, tanggungjawab, kejujuran, kepedulian, tenggang rasa, toleransi, kebersamaan, kesantunan dan masih banyak lagi, termasuk cinta.

Guru-guru yang aku maksud adalah Pak Martinus Tjama, Pak Pius Sarto, Pak Jhon Ngantak, Pak Frans Napang, Ibu Vinsensia Gadis, Ibu Neldis, dan Pak Abdul Hamid. Atau ada lagi kah yang ingat nama-nama mereka khususnya angkatan 1990-1996?

Aku tentu tak kan mampu membalas jasa baik mereka. Walau begitu aku berupaya agar suatu saat bisa mengapresiasi mereka. Selebihnya, dengan menjadi siswa yang baik, berprestasi dan bermanfaat bagi keluarga, masyarakat dan negara adalah salah satu cara sederhana untuk mengapresiasi jasa mereka.

Aku sendiri dalam beberapa tahun terakhir semakin tergoda terus untuk mengambil peran positif dalam dunia literasi, terutama kepenulisan. Walau tak seberapa dan masih dalam tahap belajar, hingga kini aku sudah menulis 22 buku dan ribuan artikel yang dimuat di berbagai Koran, Majalah dan Media Online lintas kota.

Bagiku, menulis bukanlah profesi. Sebab aktivitas ini bisa dilakukan oleh siapapun. Ya, menulis alias menghasilkan karya yang bisa dibaca banyak orang dan bermanfaat sejatinya bisa dilakukan oleh siapapun.

Aku sendiri, aktivitas rutinku di setiap harinya adalah mengajar, di samping memajukan beberapa unit usaha. Dari penerbitan buku hingga berdagang pakian lintas kota. Di sini aku mengandalkan media online dan serupanya, termasuk Blog, Facebook, WhatsApp dan lain-lain.

Karena mengajar, aku kerap nongkrong di kampus dan sekolah. Lumayan lah bisa bersua para mahasiswa dan siswa yang berasal dari beragam latar belakang dan bakat juga selera. Khusus tuk mahasiswa, mereka berasal dari berbagai kota. Begitu juga siswa. Pokoknya ramai dan seru.

Pada konteks yang lain, aku juga kerap diundang untuk menjadi narasumber di berbagai forum: seminar, talkshow, diskusi, bedah buku, pelatihan dan serupanya di berbagai kampus lintas kota di seluruh Indonesia.

Termasuk diundang mengisi acara onair dan ofair di RRI dan salah satu stasiun Televisi lokal yang paling “wah” di Kota Cirebon, namanya Radar Cirebon Televisi (RCTV), yang merupakan bagian dari keluarga besar Jawa Pos Group.

Masih banyak hal yang hendak aku tuliskan. Sementara ini ya aku hadirkan tulisan sederhana ini. Bukan untuk gaya-gayaan atau gagah-gagahan, sekadar mengenang masa-masa silam, ya mengenang masa SD tahun 1990-1996, dan dampak jangka panjang dari apa yang aku peroleh selama menjadi siswa di salah satu sekolah tertua di Manggarai Barat ini. (*)

Cirebon-Jawa Barat,
Jumat 6 Desember 2019

*Penulis 22 buku dan artikel di berbagai surat kabar dan media online

Artikel ini telah dibaca 173 kali

x