Feature

Senin, 21 Oktober 2019 - 11:32 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Mantan kasek dan mantan guru bergambar bersama alumni angkatan pertama dan kedua SDK Ruteng V di halaman restoran Spring Hill Ruteng, Minggu 13 Oktober 2019, setelah santap siang dan berbagi cerita.

Mantan kasek dan mantan guru bergambar bersama alumni angkatan pertama dan kedua SDK Ruteng V di halaman restoran Spring Hill Ruteng, Minggu 13 Oktober 2019, setelah santap siang dan berbagi cerita.

Sr. Christin: “Saya Bahagia Sekali”

Oleh Frans Anggal*

Dari Perayaan Emas SDK Ruteng V (5/Terakhir)

“Saya bahagia sekali bertemu dengan kalian. Karena, dulu keci-kecil, sekarang sudah jadi bapa-bapa dan mama-mama yang baik. Dari dulu saya selalu berdoa untuk murid-murid.”

Semu mendengarkan dalam posisi duduk berhadap-hadadapan. Yang berdiri hanya si pembicara, Sr. Christina Edith SSpS. Sr. Christin berbicara sepanjang 17 menit, singkat memang, tapi mampu menghidupkan daya bayang kami kembali ke situasi awal 1970-an. Saat itu SDK St. Theresia Ruteng V belum ada apa-apanya.

Ingin mengenang kembali tahun-tahun itu. Mendengar kembali kisah-kisahnya. Itulah alasan kami sepakat bikin reuni khusus. Reuni angkatan kedua (1975).

Komunikasi dan interaksi via grup WA yang baru dua minggu umurnya berjalan lancar. Penuh canda, tapi serius kala omong tentang apa yang dapat dibuat setelah puncak perayaan emas sekolah, Sabtu 12 Oktober 2019. Soal dana uluran kasih buat almamater, sudah. Jumlahnya sesuai dengan patokan yang disampaikan seksi alumni. Apa lagi?

Nana Nyo Buet dari angkata kedua menyampaikan sepatah kata singkat sebelum menyerahkan kado untuk para mantan kasek dan mantan guru sebagai ucapan terima kasih atas jasa dan pengabdian mereka.

Kebetulan Sr. Christin dipastikan hadiri perayaan emas. Ia kasek saat kami bersekolah dulu. Lalu, dua mantan guru wali kelas tinggalnya di Ruteng: Ibu Edil Anggal dan Pak Agus Ambon. Beberapa teman juga di Ruteng. Jadi, apa salahnya kita reunian di Ruteng?

Disepakatilah, waktunya Minggu 13 Oktober, setelah misa kedua. Tempatnya restoran Spring Hill. Yang diundang hadir, Sr. Christin, Ibu Edil, Pak Agus, Ibu Martina Nunet mewakili para mantan kasek pengganti suster, dan Ibu Rika (istri Pak Agus Ambon) mewakili para mantan guru yang tidak mengajar kami.

Juga diundang hadir, kakak kelas, angkatan pertama (1974). Mereka hanya tiga orang yang menghadiri perayaan puncak. Wilfridus Parera, Wily Meko, dan Adriana Pelang. Fridus Parera murid nomor urut 1 pada buku stambuk sekolah. Sedangkan Adri Pelang hingga kini mengabdi sebagai guru pada almater tercinta. Selain sebagai senior, mereka bertiga dipandang mewakili para alumni di luar angkatan kedua.

Sedangkan kami dari angkatan kedua lamayan banyak, meski tak sampai belasan. Akrabnya kami minta ampun. Antar-kami sapaannya enu dan nana saja. Weta nara banget. Segala atribut lain kami sepak buang.

Dari tempat paling jauh hadir nana Berto Kleden, Surabaya. Dia kami daulat sebagai koordinator sehingga sesekali disapa dengan nama paket (pak ketua). Nana inilah yang berinisiatif membuat grup WA dan rajin mengontak teman-teman seangkatan. Dari tempat jauh kedua, saya, Borong. Lainnya tinggal di Ruteng. Nana Nyo Buet, nana Yan Tangkut, enu Sri Djedoma, enu Melti Paus, enu Mersi Kasman, enu Sia Hitang, enu Tin Bambut, dan enu Lang.

Bagaimana kami saling kontak, saling kunjung di Ruteng, antar jemput selama perayaan emas, membutuhkan ruang kisah tersendiri. Singkat cerita, setelah semuanya beres, berkumpullah kami semua di Spring Hill. Kami berbagi cerita. Giliran satu satu bicara, dipandu nana Berto. Puncaknya, sebagai pamungkas, cerita dari Sr. Christin.

“Dulu, waktu pertama kali saya datang ke sini, saya masih sangat muda. Saya berumur 22 mau 23 tahun waktu itu. Saya baru selesai novisiat. Saya belum berpengalaman jadi guru, datang ke sini langsung jadi kepala sekolah. Saya dasarnya SPG. Tapi saya bawakan semua itu dalam doa. Saya yakin Tuhan Allah pasti bantu. Dan itu yang merupakan modal paling pokok. Sedangkan hal-hal lain seperti administrasi sekolah, saya tinggal pergi belajar di sekolah lain, di SDK Ruteng III.

“Memang waktu masuk pertama di Ruteng V, saya rasa lain sekali. Saya pikir, karena masuk di kota, sekolahnya pasti bagus. Ini ni, sampai di sana lain sama sekali. Kelas tiga (angkatan pertama) mau naik kelas empat. Ada tiga ruang kelas. Oke, kelas satu dan dua bisa gantian. Tapi tahun berikurltnya bagaimana sudah? Kosong. Tidak ada ruang lagi. Bangku coba kita bagi. Sementara itu lantai tanah ruang kelas juga naik turun. Kami dengan tofa mulai kerja, ratakan. Saya panggil si Finus (angkatan pertama) untuk bantu. Saya masih muda waktu itu, jadi bisa kerja macam-macam.

“Sudah mau masuk ke tahun kelima. Saya pergi tanya kami punya muder (kepala biara), tanya kami punya regional (sekarang provinsial). Dijawab, sekolah itu bukan milik kita (SSpS). Padahal, kami yang dirikan.”

Sr. Christin lalu kisahkan awal mulanya, 1969. Startnya dari TK Inviolata. “Sr. Berna SSpS yg di TK saat itu, berpikir dia punya anak TK yang sudah dia didik baik tidak bisa masuk SD karena ditolak. Jadi, lebih baik buka SD. Anak TK yang sudah selesai jadi murid kelas satu. Dipanggillah Sr. Ansila SSpS di SDK Ruteng III. Omong baik-baik dengan Pater Lomen SVD, ajak Pater Lomen agar minta Sr. Ansila jadi guru dan kepala sekolah Ruteng V.

“Jadi, tidak ada segala macam upacara sebagaimana biasanya membuka dan meresmikan sekolah baru. Setelah lanjut sekian lamanya kita juga tidak tahu ini sekolah siapa punya. Waktu awalnya ya begitu. Baru kemudian suster muder katakan itu sama seperti sekolah lain di bawah Yayasan Sukma. Kalau begitu, saya bilang, muder tulis surat resmi. Surat itu disimpan di arsip sekolah, dan harap dijaga baik karena itu dokumen penting.

Santap siang bersama. Sambil menyelam minum air. Sambil makan banyak cerita. Biaya santap siang ini ditanggung oleh nana Nyo Buet, angkatan kedua yang kini menjadi pengusaha sukses di Ruteng.

“Masa awal itu gaji guru sangat susah. Murid juga pada sedikit. Akhirnya saya mulai hubungi orang tua murid. Bapak Pius Papu, Bapak Wato Kleden, Bapak Agus Djani (semuanya pejabat daerah). Mereka usulkan bentuk BP3. Mulailah persiapan rapat. Saya baru tamat SPG mau pimpin sidang orang-orang besar? Pertama kali mau pimpin sidang, sore itu saya mondar-mandir ke kamar kecil (karena stres). Akhirnya suster muder tanya, kamu sakit perut? Yang saya pikirkan saat itu bagaimana pimpin sidang orang-orang besar. Sidang pun akhirnya berjalan. Saya hanya pengantar, sampaikan kekurangan-kekurangan sekolah, selanjutnya Bapak Pius Papu yang omong (ia sekda saat itu).

“Waktu pertama kali uang sekolah dinaikkan, orang pindah sekolah hampir mau setengah. Akhirnya saya kerja cari cara tarik murid. Mereka yang ada saya ajari bahasa Inggris. Kami buat malam kesenian. Pentas drama. Macam-macam. Pemerintah menaruh perhatian. Akhirnya kita dapat gedung inpres tahap pertama tahun 1974. Guru-guru kita kerja bagus. Tahun 1978 dapat lagi gedung inpres. Waktu itu sudah mulai pelan-pelan kita maju.

“Bahkan ada yang juara satu tingkat nasional, Polo Lama (angkatan pertama). Oleh Bapak Pius Papu ia dihadiahi naik pesawat extra flight keliling Manggarai, lengkap mengenakan seragam Ruteng V. Sejak saat itu Ruteng V favorit. Kalau ada pejabat daerah pindah ke Ruteng, pasti anaknya disekolahkan di Ruteng V.

“Itulah kisah awal yang susah payah. Sekarang banyak yang sudah berhasil. Jadi, saya bahagia sekali. Bahagia karena kamu berhasil.” *** (Selesai)

*) Penulis adalah alumni SDK Ruteng V angkatan kedua (1975)

Artikel ini telah dibaca 369 kali

Baca Lainnya
x