Feature

Minggu, 20 Oktober 2019 - 05:19 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Mantan kasek awal Sr. Christina Edith SSpS dan kasek Marsel Jebarus memotong tar 50 tahun sekolah, disaksikan wabup Viktor Madur (kiri), mantan kasek ibu  Martina Pune, dan para guru

Mantan kasek awal Sr. Christina Edith SSpS dan kasek Marsel Jebarus memotong tar 50 tahun sekolah, disaksikan wabup Viktor Madur (kiri), mantan kasek ibu Martina Pune, dan para guru

Kekuatannya: Persatuan Dan Kerja Sama

Oleh Frans Anggal*

Dari Perayaan Emas SDK Ruteng V (4)

“Kekuatan sekolah ini bukan uang. Tapi persatuan yang erat dan kerja sama yang kompak. ‘Nai ca anggit, tuka ca leleng’.”

Kata-kata itu diucapkan Kepala SDK St. Theresia Ruteng V Marsel Jebarus dalam sambutan pada resepsi perayaan emas sekolah, Sabtu 12 Oktober 2019.

Dalam susunan acara, resepsi setelah misa ini didahului konser mini 45 menit. Konser mini merupakan kristalisasi aneka lomba menyongsong hari puncak meliputi seni musik, tari, teater, dll. Konser ini dimahkotai pemotongan kue tar 50 tahun oleh kasek Marsel dan mantan kasek Sr. Christina Edith SSpS. Sesudah itu barulah sambutan. Ada tiga, dari ketua panitia Livens Turuk, kasek, dan wabup Viktor Madur. Selanjutnya santap siang, atraksi hiburan, dan acara bebas.

Kasek Marsel yang tampil bersemangat hari itu mengilas sejenak awal Ruteng V sebelum tiba pada simpulan kekuatan sekolah ini. “Pada tahun 1969 serikat SSpS mengemban tugas mulia mencerdaskan anak-anak bangsa dengan membuka sekolah yang berlokasi di ujung timur dari biara, dengan situasi awal: gedungnya beratapkan ijuk dan berlantai tanah. Sekolah itu diberi nama SDK Ruteng V, dengan pelindung St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus.

“SDK Ruteng V awalnya dinakhodai oleh Sr. Ansila SSpS, yang dibantu oleh ibu Yustina Lamak, dengan muatan dasarnya 38 murid. Tercatat di buku induk, nomor 1 atas nama Wilfridus Parera. Di sini juga sebagai saksi sejarah (angkatan pertama) hadir ibu Adri Pelang, yang hingga kini masih menjadi guru di tempat ini.

Mantan guru pak Agus Ambon (kiri) duduk sederetan dengan mantan murid angkatan pertama (1975) dan angkatan kedua (1975)

“Sejak pertama berdiri sekolah ini menjalin hubungan harmonis dengan orang tua murid yang dulu bernama POM (persatuan orangtua murid).” Tercatat, ketua POM pertama Bpk. Pius Papu, saat itu sekda Manggarai. Lalu Bpk. Tote Jelahu, Bpk. Laus Latubatara, Bpk. Christian Rotok, dst.

“Untuk memudahkan urusan dengan pihak pemerintah maka tahun 1980 pengelolaan sekolah ini diserahkan kepada Yayasan Sukma sehingga statusnya menjadi swasta bersubsidi.

“Dalam perjalanannya SDK Ruteng V yang penuh kharisma mampu menghipnotis berbagai kalangan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah ini. Karena itu, sejak tahun 2008 penerimaan murid baru diseleksi melalui psikotes untuk memininalisir adanya dusta di antara kita.

“Tak dapat disangkal lembaga ini telah menghasilkan output yang telah menjadi orang. Meski demikian sekolah ini bukan sekolah yang sempurna. Karena itu, dibutuhkan bantuan dari berbagai pihak.

“Sekolah ini mewariskan budaya mencintai dan menghargai para penjasa. Hal ini diwujudkan dengan adanya kunjungan ke rumah bapak ibu guru yang telah pensiun, ziarah ke makam para guru dan komite. Ini dilakukan tiap tahun pada Hari Guru Nasional. Bapak ibu guru yang purnabakti dilepaspisahkan melalui ekaristi kudus dan diberi cincin simbol ikatan tak kunjung putus dan kain (songke) simbol doa agar tetap sehat terjaga. Ide ini dicetuskan Bpk. Chris Rotok saat menjabat ketua komite.”

Komite sekolah ini luar biasa, kata kasek Marsel. Komite mampu menyejahterakan guru. Kasih gaji 13. Guru honorer digaji dua juta rupiah lebih.

Demikian juga guru-gurunya, patut dijempoli. “Guru-guruku, kamu adalah guru yang hebat, luar biasa. Saya pesan, janganlah kekayaan ini hilang, yakni kekayaan kerja sama.”

Sebelumnya, dalam sambutan sebagaj ketua panitia/komite, Livens Turuk mengapresiasi semua pihak karena telah bersatu dan bekerja sama sehingga perayaan ini dan berbagai kegiatan yang mendahuluinya telah terselenggara dengan baik. Ada pemeriksaan kesehatan dan golongan darah untuk murid. Ada pemeriksaan kesehatan guru dan pensiunan. Penyuluhan kesehatan a.l. sikat gigi dan cuci tangan yang benar. Seminar anti kekerasan terhadap anak. Lomba vokal dan tari.

Alumni, enu Novi Bora (keempat dari kiri) bersama teman-teman ceria bergambar saat resepsi perayaan emas SDK Ruteng V

Atas suksesnya semua wujud nyata persatuan dan kerja sama itu, Livens mengucapkan terima kasih. Secara khusus ia tujukan terima kasih kepada alumni atas uluran tangan sehingga pelataran depan sekolah sudah dipasang paving block, lengkap dengan halte tunggu dan pos satpam.

Terima kasih disampaikan juga wabup Viktor Madur dalam sambutannya. Bagi pemkab Manggarai, kata wabup, sekolah ini telah turut dalam mewujudkan visi daerah, khususnya visi ketiga: terwujudnya pendidikan yang demokratis.

Ada satu hal penting yang wabup garis bawahi. “Harus disadari bahwa bagi sebuah lembaga pendidikan, usia 50 tahun meskipun adalah rentang waktu yang sangat panjang, bukanlah merupakan puncak pencapaian. Titik tertinggi pencapaian adalah ketika semua lulusan dan alumni menjadi pribadi-pribadi yang menggerakkan perubahan lingkungan yang lebih besar.”

Kalau itu yang merupakan ukurannya, SDK Ruteng V patut berbangga. Banyak alumninya telah menjadi orang. Menjadi penggerak perubahan di lingkungan lebih luas. Dalam konteks ini, apa yang dipersembahkan alumni pada perayaan emas tahun ini barulah sebuah awal dan sesungguhnya hanya secuil dari apa yang sanggup mereka lakukan. *** (bersambung)

*) Penulis adalah alumni SDK Ruteng V angkatan kedua (1975)

Artikel ini telah dibaca 371 kali

Baca Lainnya
x