Feature

Sabtu, 19 Oktober 2019 - 06:05 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Wabup Manggarai Viktor Madur dan mantan kasek Sr. Christina Etldih SSpS dikalungi di depan gerbang sekolah saat menghadiri perayaan puncak emas SDK Ruteng V.

Wabup Manggarai Viktor Madur dan mantan kasek Sr. Christina Etldih SSpS dikalungi di depan gerbang sekolah saat menghadiri perayaan puncak emas SDK Ruteng V.

Sang Surya di Khatulistiwa

Oleh: Frans Anggal*

Dari Perayaan Emas SDK Ruteng V (3)

// Kasih ibu kepada beta / tak terhingga sepanjang masa / hanya memberi tak harap kembali / bagai sang surya menyinari dunia //

Itu lirik lagu Kasih Ibu. Lagu anak-anak, sangat terkenal. Lagu lembut ini diciptakan bukan oleh seorang wanita, tapi oleh seorang pria. Pria dewasa. SM Mochtar namanya alias Mochtar Embut, asal Makassar.

Pada misa perayaan puncak emas SDK St. Theresia Ruteng V, Sabtu 12 Oktober 2019, lagu ini dibawakan oleh seorang pria juga. Pria dewasa. Romo Hans Jondo. Ia imam sulung dari Ruteng V. Dalam rentang waktu 50 tahun sekolah ini, sudah lahir 10 imam. Kalau dirata-ratakan, tiap 10 tahun 1 imam. Pada perayaan puncak hari itu 4 dari 10 imam hadir mempersembahkan misa. Dan Romo Hans ditugasi membawakan khotbah.

Dari atas mimbar di bawah tenda halaman tengah sekolah, Romo Hans memulai dengan lagu itu: Kasih Ibu. Ia mengajak anak- anak anggota kor bernyanyi bersama. Dan ternyata bukan hanya anak-anak. Semua yang hadir ikut menyanyi. Wakil bupati Manggarai Viktor Madur dan berapa pejabat pemkab, Sr. Christina Edith SSpS dan para mantan kasek, para mantan guru, bapak ibu guru, bapak ibu alumni, semuanya melantunkan Kasih Ibu. Lagu pendek itu pun berakhir, tepuk tangan membahana.

“Lima puluh tahun, ibu kita SDK St. Theresia Ruteng V tidak berhenti mencurahkan kasihnya. Bagai sang surya yang tidak pernah redup. Surya di khatulistiwa,” kata Romo Hans.

Ia lalu menyentil kebanggaannya sebagai alumni Ruteng V dan alasan atas kebanggaan itu. “Saya ini tugas di kampung, di Kajong. Pak wakil bupati mengira saya orang kampung. Saya bilang, anak kotaaa…. Tapi tidak sampai di anak kota. Ruteng Limaaa…. Bangga dari dulu jadi Ruteng V.”

“Anak-anak bangga jadi Ruteng V?” Ia bertanya kepada anak-anak anggota kor. Anak-anak pun kompak menjawab, “Banggaaaaa.”

“Kenapa kita bangga? Karena kita selalu yang terdepan dari dulu. Kita tak pernah menjadi nomor dua,” tandas Romo Hans. “Selama 50 tahun, Ruteng V seperti surya di khatulistiwa. Memberikan cahaya.”

Selalu yang terdepan. Ini bukan isapan jempol. Beberapa hari jelang perayaan puncak, saya yang juga alumni Ruteng V sempat menyambangi almamater, masuk ke beberapa ruangan. Di ruang guru, trofi yang dipajang begitu bersesakan saking banyaknya. Juara ini, juara itu, dari tingkat kabupaten hingga tingkat nasional bahkan internasional. Dalam bidang akademik ada yang selalu dikenang. Murid SDK Ruteng V Jeven Syatriadi menjadi anggota tim Indonesia pada Kontes Matematika Dunia (Primary Math World Contest) 2006 di Hongkong. Kontes itu diikuti 16 negara yang terdiri atas 48 tim dan 191 peserta. Hasilnya? Tim Indonesia meraih 1 emas dan 1 perunggu.

Kalau Ruteng V sehebat ini, apa yang menjadi kekuatannya? Apa yang membuat sekolah yang didirikan SSpS tahun 1969 ini dan kemudian bernaung di bawah Yayasan Sukma Keuskupan Ruteng selalu menjadi yang terdepan? Romo Hans menyebut dua kekuatan. Yakni St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus sebagai pelindung dan bimbingan awal dari kongregasi SSpS. SSpS merupakan singkatan dari bahasa Latin, lengkapnya “Congregatio Servarum Spiritus Sancti”. Serikat Para Suster Misi Abdi Roh Kudus.

Romo Hans Jondo (kiri) dan para alumni melangkah masuk sebelum misa dimulai. Imam sulung Ruteng V ini membawakan khotbah singkat memikat saat misa puncak.

Atas dasar itu Romo Hans menitip pesan. Jangan pernah melupakan St. Theresia dan Roh Kudus. Selama Anda berjuang bersama St. Theresia di bawah bimbingan Roh Kudus dan kebijaksanaan dari Kitab Suci maka Anda pasti berada pada jalan yang benar dan akan meraih hasil gemilang.

“Jangan pernah menjadi redup, Ruteng Lima-ku yang kucinta!” Ia menutup khotbahnya.

Perayaan ekaristi puncak ini sungguh semarak dan apik. Sekitar pukul 08.00 para imam selebran, wakil bupati serta rombongan, mantan kasek dan guru, mantan ketua komite, dan alumni mulai berkumpul di pastoran gereja St. Yoseph (katedral lama). Pukul 08.30 mereka diarak oleh drum band SMPK Immaculata hingga gerbang Immaculata. Dilanjutkan dengan tari hegong dengan iringan gong waning menuju gerbang Ruteng V. Di depan gerbang dilakukan ritus adat penjemputan “kepok curu”. Saat masuk ke pelataran depan sekolah, undangan disuguhi tarian “tiba meka” (terima tamu). Usai tarian, semua dipersilakan menuju bagian tengah sekolah tempat perayaan misa segera dilangsungkan.

Bapak ibu undangan yang sebagiannya terdiri dari utusan alumni dari 45 angkatan sedang mengikuti perayaan misa emas. Terselip para mantan kasek dan mantan guru.

Misanya khidmat. Kornya merdu, dibawakan anak-anak Ruteng V dengan dirigen ibu guru Beatrix Djuita. Kor diiringi band pimpinan Pak Felix Edon. Misa semakin semarak oleh tarian anak-anak mulai dari perarakan masuk hingga selama perayaan belangsung. Sangat kelihatan peran anak-anak. Benar-benar menonjol.

Tibalah saat pengantaran persembahan. Iring-iringan yang semuanya anak-anak berlangkah maju diantar oleh para penari. Di atas tangga di hadapan imam selebran, sesuatu yang tak lazim terjadi. Seorang anak memegang mik. Tanpa teks ia menyampaikan ujud dalam bahasa adat Manggarai “torok tae”. Begitu indah dan lancar. Semua berdecak kagum. Akhirnya … “Boto reweng kanang, Ema Pastor, ho’o i nau lime dami. Kepok.” Saat ia menutup dengan kalimat itu, spontan semua yang hadir bertepuk tangan. Ini juga tak lazim, tepuk tangan saat antar persembahan.

Bagi saya, sangat terasa, liturgi pagi itu yang apik lancar menonjolkan peran anak-anak memperkuat apa yang ditandaskan Romo Hans dalam khotbahnya. Sekolah ini benar-benar telah, sedang, dan akan tetap menjadi surya di khatulistiwa. Teranglah terus. Jangan pernah redup. *** (bersambung)

*) Penulis adalah alumni SDK Ruteng V angkatan kedua (1975)

Artikel ini telah dibaca 733 kali

Baca Lainnya
x