Feature

Kamis, 17 Oktober 2019 - 23:36 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Alumni bergambar bersama setelah pemotongan pita peresmian penggunaan fasilitas di halte tunggu di pelataran depan sekolah. (Foto: Kaka Ited)

Alumni bergambar bersama setelah pemotongan pita peresmian penggunaan fasilitas di halte tunggu di pelataran depan sekolah. (Foto: Kaka Ited)

Berikan yang Terbaik Untuk Ruteng V

Oleh Frans Anggal*

Dari Perayaan Emas SDK Ruteng V (2)

Setelah jalan sehat “sepanjang jalan kenangan” di pagi hari maka sorenya pada hari yang sama, Kamis 10 Oktober 2019, diadakan temu alumni. Ini salah satu kegiatan pokok jelang puncak perayaan emas SDK St. Theresia Ruteng V, Sabtu 12 Oktober 2019.

Acaranya pukul 16.00. Dimulai dengan penjemputan (“curu”) di gerbang sekolah. Koordinator seksi alumni Dokter Vronny (Imakulata V. Djelulut) dari angkatan 1982 berdiri paling depan, diapiti Nyo Buet (1975), Wily Meko dan Fridus Parera (1974). Dua murid wanita maju mengalungkan seledang songke ke Dokter Vronny. Setelah pengalungan selendang, kasek Marsel Jebarus pun maju menyampaikan sapaan adat (“kepok tuak”) dan dijawab (“wale kepok”) oleh Wily Meko.

Nuansa adat sore itu sangat terasa. Tidak hanya dari acaranya tapi juga dari busananya. Para alumni mengenakan kain songke dengan atasan bervariasi. Ada yang bajunya putih, merah, macam-macam. Tidak demikian dengan para guru. Mereka berseragam dengan motif adat. Bawahnya songke, atasnya blus dan kemeja biru berkrah songke. Guru pria dilengkapi destar. Mereka begitu anggun. Khusus kasek Marsel, kemejanya merah, luarnya jas hitam.

Busana para murid tak kalah cantiknya. Para penari (wanita) berok kembang songke, berkebaya putih, bermahkota bali belo. Para pemain tetabuhan (pria), bawahnya songke, atasnya kemeja putih, kepala berdestar. Sedangkan anggota kor, seragamnya putih biru, dibungkus rompi songke.

Masih di gerbang sekolah … setelah pengalungan selendang songke dan sapaan adat, alumni disambut lagi dengan tarian “tiba meka” (terima tamu). Gemulai gerak putri-putri Ruteng V begitu padu dengan irama tetabuhan gendang dan bambu.

Selanjutnya alumni bersama mantan kasek dan mantan guru diantar masuk ke bagian dalam sekolah, di bawah tenda seluas halaman. Turut hadir Sr. Christina Edith SSpS yang jauh-jauh datang dari Maumere. Sr. Christin menjabat kasek belasan tahun hingga 1985, menggantikan kasek pertama Sr. Ansila SSpS. Pengganti Sr. Christin adalah Ibu Martina Pune, lalu Pak Galus Ganggus, Pak Felix Edon, Pak Thomas Darus, dan kini Pak Marsel Jebarus yang sebentar lagi pensiun.

Selain Sr. Christin, dua mantan kasek juga hadir. Ibu Martina Pune dan Pak Felix Edon. Ibu Martina adalah ibunda dari pemusik, penyanyi, dan pencipta lagu Ivan Nestorman yang juga alumni Ruteng V. Sedangkan Felix Edon dikenal sebagai pemusik dan pencipta lagu Manggarai. Salah satu lagu ciptaannya, “Anak Diong”, kini viral karena dinyanyikan oleh penyanyi cilik berbakat asal Manggarai, Betrand Peto.

Di bawah tenda bagian dalam sekolah para alumni bersama mantan kasek dan mantan guru diterima lagi dengan adat “kapu”. Kasek Marsel duduk di tangga panggung manghadap hadirin, diapit dua murid laki-laki berbusana adat. Kalau pada acara adat penjemputan “curu” di gerbang sekolah barang yang diserahkan adalah sebotol bir, maka pada acara adat “kapu” di bawah tenda bagian dalam sekolah barangnya seekor ayam jantan. “Kepok kapu” dari kasek dijawab oleh Fridus Parera.

Alumni menyerahkan hasil kerjanya kepada sekolah. Depan dari kiri, Beatrix Djuita guru, Marsel Jebarus kasek, Nety Dugis wakil alumni, dan dr. Vronny koordiantor seksi alumni. (Foto: Kaka Ited)

Acara adat selesai. Kini hadirin disuguhi lagu dari paduan suara murid-murid bersuara merdu. Mereka membawakan dua lagu. Lagu Mars Ruteng V ciptaan Felix Edon dan lagu Santa Theresia. Mars Ruteng V pertama kali dinyanyikan pada perayaan pancawindu 10 tahun silam.

Kalau anak-anak Ruteng V hebat dalam berseni musik dan tari, itu tidak mengherankan. Di sekolah mereka dilatih dengan baik, di luar sekolah mereka mengambil kursus, satu di antaranya kursus musik Neragracia Ruteng di bawah bimbingan Bren Epalonian putra komponis Agustinus Amat (alm). Khusus untuk perayaan emas, mereka dibimbing orang-orang seni: Felix Edon, Tris Baeng, Irma Aburman, Yovita Erni Jem, Fransiska Jemamu, dan Maris Dessy Natalia.

Setelah paduan suara mempersembahkan dua lagu, acara diteruskan dengan sambutan. Sambutan pertama dari kasek Marsel Jebarus. Ia berterima kasih atas kehadiran dan kepedulian alumni mengulurkan tangan. Bukti nyatanya adalah semakin tertata bagusnya pelataran depan sekolah. Lantainya sudah dipasangi paving block. Dilengkapi halte tunggu dan pos satpam.

Sambutan kedua dari perwakilan alumni, Nety Dugis, angkatan ketiga (1976). Ia mengatakan 50 tahun merupakan rentang waktu yang panjang dan penuh perjuangan. Ruteng V berawal dari bangunan kecil beratapkan ijuk, menggunakan kapur tulis dan kalam, kini menjadi sekolah ternama di Manggarai, “Bangga menjadi Ruteng V.”

Karena itu atas nama alumni Nety mengucapkan terima kasih kepada Sr. Christin dan para guru yang telah berjasa dalam mendidik alumni pada masa formasi awal, sehingga semuanya bisa menjadi seperti sekarang dengan berbagai profesi. Ada yang jadi dokter, pengacara, notaris, insinyur, apoteker, dosen, pengusaha, imam, suster, dll. Putri Nety Dugis sendiri, Stephanie Soe, kini berprofesi pilot, tamat dari SDK Ruteng V tahun 2009.

Nety juga menyampaikan terima kasih kepada para alumni yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan perayaan emas. Ia mengajak para alumni tetap bahu-membahu mengambil bagian dalam hal apa saja demi kemajuan SDK Ruteng V. “Karena Ruteng V maka kita semua bisa seperti ini. Berikan yang terbaik untuk Ruteng V tercinta.”

Mantan kasek dan mantan guru bergambar bersama salah satu angkatan yang menyerahkan kado sebagai ucapan terima kasih. (Foto: Kaka Ited)

Setelah sambutan, acara diteruskan dengan penyerahan hasil kerja alumni kepada pihak sekolah. Didahului dengan penandatanganan berita acara oleh wakil alumni dan kasek. Hasil kerja dimaksud berupa paving block pelataran depan sekolah, halte tunggu, dan pos satpam.

Hasil kerja sudah diserahkan. Tiba saatnya penggunaannya diresmikan. Hadirin diajak menuju pelataran depan menyaksikan pemotongan pita. Pita sudah terbentang di halte tunggu. Rizal Halim dari angkatan 2000 didaulat untuk memotong. Ia maju, diapiti kasek Marsel, Ibu guru Beatrix Djuita, dan Dokter Vronny. Begitu pita terpotong, tepuk tangan pun memecah keheningan.

Selanjutnya jeda. Diisi dengan makan minum ringan berupa snak menggunakan kupon. Pada saat jeda ini alumni diajak keliling-keliling oleh kasek. Maksudnya jelas, hendak memperlihatkan apa saja yang masih kurang dan membutuhkan uluran tangan. Tercatat ada tiga. Selasar jalan masuk sisi barat, tembok belakang sekolah, dan gudang permanen.

Hari beranjak gelap. Acara berikutnya lebih eksklusif. Hanya boleh dihadiri alumni dan guru pensiunan. Intinya berupa laporan singkat tentang kontribusi alumni dalam perayaan emas. Laporan ini disampaikan dengan runtut dan jelas oleh Dokter Vronny selaku koordinator seksi alumni.

Dalam pertemuan hari itu, yang kemudian menajam dalam bincang-bincang alumni pasca-perayaan puncak, tersimpul satu hal. Betapa perlu dan pentingnya keterlibatan alumni dalam wujud kontribusi, bukan semata demi suksesnya perayaan emas tetapi juga untuk masa depan SDK Ruteng V. Tujuannya satu. Terciptanya lingkungan sekolah yang lebih nyaman. Nyaman bagi siswa. Nyaman bagi guru. Nyaman bagi orangtua. *** (bersambung)

*) Penulis adalah alumni SDK Ruteng V angkatan kedua (1975).

Artikel ini telah dibaca 734 kali

Baca Lainnya
x