Feature

Rabu, 16 Oktober 2019 - 11:08 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Alumni dari angkatan awal tidak pisah dari mantan guru Pak Agus Ambon (kiri belakang) saat jalan sehat, Kamis 10 Oktober 2019. (Foto: Frans Anggal)

Alumni dari angkatan awal tidak pisah dari mantan guru Pak Agus Ambon (kiri belakang) saat jalan sehat, Kamis 10 Oktober 2019. (Foto: Frans Anggal)

Sepanjang Jalan Kenangan

Oleh Frans Anggal*

Dari Perayaan Emas SDK Ruteng V (1)

Kamis, 10 Oktober 2019. Bagi sebagian warga kota dingin Ruteng hari itu mungkin biasa-biasa saja. Tidak bagi keluarga besar SDK St. Theresia Ruteng V. Hari itu hari istimewa. Paginya, para murid, guru, mantan guru, alumni, dan pejabat pemkab Manggarai melakukan kegiatan massal. Panitia menamakannya “jalan sehat”. Sorenya, temu alumni. Ini dua butir kegiatan pokok menjelang perayaan puncak emas (50 tahun) usia sekolah, Sabtu, 12 Oktober 2019.

Pagi itu, jalan sehat dijadwalkan pukul 07.00. Namun baru pada jam itu juga saya meluncur dari Kumba, 2 km sebelah timur kota Ruteng. Saya mampir sebentar di rumah teman seangkatan, Sri Djedoma, di sebelah timur kompleks SMP Dharma Bhakti tak jauh dari sekolah. Eh, rumahnya terkunci. Dia pasti sudah di sekolah. Benar saja. Saat saya masuk melewati gerbang sekolah, sudah ada Sri berdiri di bawah naungan terop bagian timur pelataran depan sekolah bersama tiga teman seangkatan: Melti Paus, Beata Parera, dan Nyo Buet. Kami berlima boleh dibilang mewakili angkatan kedua (1975).

Pelataran depan sekolah tempat berkumpul dan titik start jalan sehat itu pun ramai. Ratusan murid, para guru, mantan guru, dan alumni terlibat obrolan lepas penuh canda. Tiap angkatan sibuk bergambar dalam balutan kaus putih kuning kenangan pesta emas. Mereka bergambar di tempat yang sama, namun kenangan setiap angkatan pastilah berbeda.

Bupati Manggarai Deno Kamelus mengangkat bendera saat melepas peserta jalan sehat emas SDK Ruteng V, Kamis 10 Oktober 2019. (Foto: Kaka Ited)

Dulu, pelataran itu berlantai pasir penuh debu, terutama di tahun-tahun awal 1970-an. Kala saya masuk sekolah ini tahun 1973 sebagai murid pindahan kelas III dari SDK Palis di Nangalili yang saat itu ibu kota kecamatan Lembor, pagar sekolah ini masih berupa pagar kawat duri bertiang kayu (puni). Gedung sekolahnya berlantai tanah, berdinding papan, beratap ijuk (wunut). Ketika naik kelas IV, karena keterbatasan ruang kelas, kami sekelas pindah bersekolah di kompleks pertukangan Misi, sebutan untuk SVD masa itu, yang terletak di belakang (selatan) gereja katedral lama. Guru kelas kami Ibu Edil Anggal. Begitu naik kelas V kami kembali bersekolah di kompleks SDK Ruteng V karena sudah ada bangunan permanen di bagian timur yang masih bertahan hingga saat ini. Dari kelas V hingga tamat di kelas VI kami diampu guru kelas Pak Agus Ambon. Kepala sekolah saat itu Sr. Christina Edith SSpS. Suatu kebahagiaan, pada perayaan emas sekolah, kami boleh bertemu kembali dengan Sr. Christin, Ibu Edil, Pak Agus, dan guru-guru dari kelas lain yang semuanya sudah pensiun.

Di pelataran depan sekolah yang dulu berdebu itulah jumpa kembali dengan sebagian mantan guru terjadi. Kini pelataran itu sudah didandan cantik, dipasangi paving block, lengkap dengan halte tunggu dan pos satpam. Ini merupakan wujud nyata hasil uluran kasih para alumni dari 45 angkatan.

Pada kegiatan jalan sehat pagi itu Sr. Christin turut hadir walau tidak ikut jalan karena pertimbangan usia. Ia sudah 71 tahun namun tetap segar bugar. Sedangkan Pak Agus ambil bagian penuh bersama istrinya Ibu Rika yang juga mantan guru SDK Ruteng V.

Acara jalan sehat diawali dengan sambutan singkat Bupati Manggarai Deno Kamelus. Ia sangat mengapresiasi kegiatan ini seraya mengucapkan selamat kepada SDK Ruteng V. Usai sambutan, bupati memegang bendera siap untuk melepas para peserta jalan sehat. Terdengar aba-aba dari pengeras suara, “Lima … empat … tiga … dua … satu … go ….”

Murid-murid SDK Ruteng V berada paling depan membawa baliho logo dan tema perayaan emas saat jalan sehat, Kamis 10 Oktober 2019. (Foto: Kaka Ited)

Keluar dari gerbang sekolah, peserta langsung belok kanan ke arah timur. Paling depan, pemegang baliho bergambar logo pesta emas bagian kiri dan tema “Mewujudkan Generasi Emas SDK Ruteng V yang Berkarakter” di bagian kanan. Di belakangnya, para murid, guru, dll. Bupati sendiri ambil bagian penuh dari titik start hingga titik finish.

Dari titik start peserta melintas hingga tiba di perempatan depan kantor DPRD. Dulu tahun 1970-an lokasi DPRD adalah tempat rumah sakit umum, sedangkan kantor DPRD-nya berlokasi di kompleks kantor bupati sekarang ini, sebelah selatan lapangan Motang Rua.

Dari perempatan kantor DPRD, peserta belok kiri ke arah utara, menempuh jalur panjang dan agak menurun menuju Mbaumuku. Tepat di pertigaan kantor BRI Cabang Ruteng, peserta belok kiri ke arah barat menempuh rute singkat hingga di pertigaan swalayan Sentosa Raya, lalu belok kiri lagi ke arah selatan melewati kawasan pertokoan hingga mencapai perempatan rumah jabatan bupati. Pada tahun 1970-an, rute ini ditandai beberapa bangunan penting yang sekarang sudah tidak ada, yakni pasar yang sekarang jadi lokasi pertokoan dan MCC, dan penjara yang kemudian dipindahkan ke Labe 3 km arah timur kota Ruteng. Sedangkan yang masih bertahan adalah masjid, toko Sejati yang tampak luarnya masih seperti dulu dan beberapa toko lain, lapangan Motang Rua, dan rujab bupati yang sudah direnovasi tanpa terlalu banyak mengubah tampak luar terutana teras depannya.

Dari titik perempatan rujab bupati inilah peserta kemudian belok kanan melintas di bawah naungan pohon beringin yang kelihatan masih seperti dulu, ke arah barat menapaki ruas jalan antara kantor bupati dan lapangan Motang Rua. Ini ruas pendek yang dulunya tidak ada. Tahun 1970-an lapangan Motang Rua yang kerendahan di utara dan kompleks DPRD yang ketinggian di selatan dibatasi oleh anak-anak tangga menuju tiang bendera yang berdiri menjulang di tengah bundaran kolam air. Adapun mapolres yang dulu bernama tangsi polisi tetap di lokasi yang sekarang, sebelah barat Motang Rua.

Alumni dari angkatan awal tidak pisah dari mantan guru Pak Agus Ambon (kiri belakang) saat jalan sehat, Kamis 10 Oktober 2019. (Foto: Frans Anggal)

Setiba di perempatan samping mapolres, peserta belok kiri ke arah selatan. Nah, dari kejauhan di ketinggian atas sana tampak jelas gereja katedral lama dengan latar belakang pegunungan Mandosawu yang seakan sedang menunggu kedatangan anak-anaknya. Tahun 1970-an ruas jalan ini merupakan salah satu ruas jalan termulus aspalnya. Patung Kristus Raja di sudut cabang ke Wae Locak masih berdiri seperti dulu. Demikian juga bangunan yang sekarang dikenal sebagai tempat kompiang Tarzan masih seperti itu juga dinding papan dan atap sengnya. Selepas Tarzan ada SDK Ruteng III, lalu pastoran paroki katedral lama. Pada tahun 1970-an pastor parokinya Pater Yan Djuang SVD. Dia dekat dengan anak-anak dan suka menggunakan istilah khas anak-anak masa itu. Antara lain, “nggelek di bokak”. Ini istilah untuk sesuatu yang enak saat dimakan. Harfiahnya, “licin di leher”.

Sesampai di pertigaan depan katedral, peserta belok kiri ke arah timur. Di sini barisan agak terputus karena sebagian peserta khususnya alumni memilih berhenti sejenak untuk berfoto dengan latar belakang gereja katedral. Katedral lama terlalu kuat berada dalam memori mereka. Para alumni kembali mengenang saat dulu mereka sambut baru, misa sekolah, jadi ajuda, tempat kumpul anak seminari sebelum berangkat ke Kisol menumpang truk, dll. Tak heran sebagian alumni mengabadikan tempat ini. Selesai berfoto barulah mereka mengejar barisan, melintasi ruas jalan depan biara susteran SSpS yang masih seperti dulu dan SMPK Immaculata yang dulu SKKP dan semua muridnya wanita.

Akhirnya peserta tiba di titik finish dan masuk kembali ke kompleks SDK Ruteng V. Semua peserta diarahkan ke bagian dalam sekolah, melepas lelah di bawah tenda yang sudah disiapkan untuk acara puncak. Momen di bawah tenda ini punya kejutannya sendiri. Ada alumni yang baru berjumpa lagi dengan Sr. Christin setelah puluhan tahun berpisah. Peristiwa ini disaksikan Bupati Deno didampingi koordinator alumni Dokter Vronny (Imakulata V. Djelulut) dan ketua komite Livinus V. L. Turuk.

Sementara itu, ke manakah para murid usai jalan sehat? Bukannya berisitirahat, mereka malah mulai bergoyang ria begitu mendengar dentuman musik. Ibu-ibu guru turut bergoyang, sekaligus memandu. Adapun alumni yang sebagianya sudah oma opa hanya manyaksikan sambil duduk. Apa yang ada dalam benak oma opa?

Bagi saya, Nyo Buet, Beata Parera, Melti Paus, dan Sri Djedoma dari angkatan kedua (1975), jalan sehat ini tidak sekadar menyehatkan, tapi juga mengenangkan semua yang dulu. Ini bukan hanya jalan sehat. Ini juga jalan kenangan. Dan kenangan itulah yang menyatukan kembali kami, untuk kemudian bergandeng tangan, menatap masa depan. Ya, masa depan SDK Ruteng V. *** (bersambung)

*) Penulis adalah alumni angkatan kedua (1975) SDK Ruteng V.

Artikel ini telah dibaca 370 kali

Baca Lainnya
x